3 Abad Jadi Pusat Dagang, Tanah Abang Kini Diuji Perubahan Zaman


Surakarta, 15 Oktober 2026 - Selama hampir tiga abad, Pasar Tanah Abang menjadi salah satu pusat perdagangan tekstil dan barang kelontong paling legendaris di Jakarta, bahkan Asia Tenggara. Namun, pasar yang dulu selalu dipadati pembeli dari berbagai daerah kini menghadapi tantangan besar akibat perubahan perilaku belanja masyarakat.
Awal Mula di Era Kolonial
Pasar Tanah Abang berdiri resmi pada 30 Agustus 1735. Justinus Vinck (juga ditulis Yustinus Vinck), seorang tuan tanah dan pejabat VOC, membuka pasar di lahan miliknya di kawasan yang saat itu masih didominasi kebun dan rawa. Ia mendapat izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patras.
Awalnya pasar hanya beroperasi setiap hari Sabtu, sehingga dikenal sebagai Pasar Sabtu. Barang yang dijual fokus pada tekstil dan kelontong. Kawasan ini sebelumnya merupakan lahan pertanian yang dikelola komunitas Tionghoa, termasuk kebun tebu, kacang, jahe, dan sirih. Nama “Tanah Abang” sendiri diduga berasal dari warna tanah merah di bukit sekitar Kali Krukut.
Perjalanan awalnya tidak mulus. Pada 1740, pasar mengalami kerusakan parah saat Peristiwa Geger Pecinan (Chineezenmoord), pembantaian dan perusakan terhadap komunitas Tionghoa. Pasar sempat lumpuh sebelum akhirnya dibangun kembali secara bertahap. Pada 1881 pasar dibuka dua kali seminggu (Rabu dan Sabtu). Pembangunan permanen dilakukan pada 1926 dengan los-los tembok dan atap genteng.
Masa Kejayaan sebagai Sentra Grosir
Memasuki abad ke-20 hingga era modern, Tanah Abang berkembang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia. Pedagang dan pembeli datang dari berbagai daerah, bahkan negara tetangga di Asia Tenggara. Kios-kios dipenuhi pakaian jadi, kain, hijab, hingga aksesoris.
Pada 1990-an, perputaran uang di kawasan ini dilaporkan mencapai sekitar Rp10 miliar per hari. Beberapa catatan lama bahkan menyebut angka yang jauh lebih tinggi pada periode puncak tertentu. Besarnya skala bisnis membuat Tanah Abang menjadi magnet ekonomi yang menopang rantai pasok tekstil nasional. Menurut catatan Asosiasi Pertekstilan Indonesia, pada kondisi normal sekitar 40 persen produksi tekstil nasional dipasarkan melalui pasar ini.
Tantangan Digital yang Mengubah Peta Persaingan
Besarnya reputasi dan usia panjang ternyata tidak membuat Tanah Abang kebal terhadap disrupsi. Perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan utama. Masyarakat semakin terbiasa berbelanja melalui platform e-commerce dan fitur live shopping di media sosial seperti TikTok Shop dan Shopee Live.
Pedagang kios fisik menghadapi struktur biaya yang berbeda. Mereka harus menanggung sewa tempat, operasional, dan biaya harian, sementara penjual online dapat menawarkan harga lebih kompetitif dengan model bisnis yang lebih fleksibel. Akibatnya, banyak pedagang melaporkan penurunan omzet signifikan. Beberapa kios sepi, sebagian bahkan tutup atau beralih usaha.
Pengunjung fisik masih ada—rata-rata sekitar 15.000 orang per hari, meningkat pada akhir pekan—tetapi pola belanja sudah berubah. Banyak yang datang hanya untuk melihat barang, lalu membandingkan harga di aplikasi.
Adaptasi Pedagang dan Upaya Bertahan
Tidak semua pedagang pasrah. Banyak yang beralih ke model hibrida: tetap membuka kios fisik sambil menjual secara online dan melakukan live shopping langsung dari toko. Pembeli masih menghargai keunggulan pasar fisik, yaitu bisa melihat dan meraba bahan kain secara langsung.
Pengelola pasar dan pemerintah juga mendorong digitalisasi, revitalisasi blok-blok tertentu, serta fasilitasi modal. Pada 2026, Pemprov DKI bahkan merencanakan penataan kawasan sekitar Tanah Abang (Kampung Bali, Kebon Melati, Kebon Kacang) dengan bantuan teknologi AI, tanpa penggusuran, ditargetkan selesai 2028.
Pelajaran dari Sejarah Panjang
Tanah Abang sudah beberapa kali melewati perubahan zaman—dari kebakaran dan konflik kolonial, pembangunan permanen, hingga era digital. Lokasi strategis dan reputasi lama memang penting, tetapi tidak cukup. Bisnis yang ingin bertahan harus mampu membaca perubahan perilaku konsumen dan menyesuaikan cara beroperasi.
Bagi pasar tradisional dan pelaku usaha fisik, pelajaran terbesarnya adalah adaptasi. Kombinasi pengalaman tatap muka dengan kekuatan digital bisa menjadi jalan untuk tetap relevan. Sejarah Tanah Abang membuktikan bahwa pusat perdagangan yang mampu berubah seiring zaman memiliki peluang lebih besar untuk terus hidup.
Image Source: Liputan6
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi