4 Bisnis Gibran Rakabuming yang Tak Bertahan, dari Kopi hingga Aplikasi Kuliner


Surakarta, 29 Oktober 2026 - Gibran Rakabuming Raka kini menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebelum terjun ke pemerintahan, ia lebih dulu dikenal sebagai pengusaha di berbagai bidang, terutama sektor makanan dan minuman. Bersama adiknya, Kaesang Pangarep, Gibran merintis sejumlah usaha. Namun, tidak semua bisnis yang mereka bangun mampu bertahan menghadapi persaingan pasar dan tantangan eksternal seperti pandemi.
Salah satu yang paling sering dibahas adalah Ternakopi. Bisnis kopi kekinian ini diluncurkan pada Mei 2019. Sebelum pandemi COVID-19, Ternakopi sempat memiliki hampir 40 gerai yang tersebar di berbagai wilayah. Konsepnya menawarkan kopi dengan biji lokal dari berbagai daerah Indonesia. Namun, setelah pandemi melanda, penjualan merosot tajam. Kaesang sendiri pernah mengakui secara terbuka bahwa hampir seluruh gerai hilang karena produknya tidak cukup laku di pasaran. Persaingan ketat di industri kopi siap saji dan perubahan perilaku konsumen menjadi faktor yang mempercepat penutupan.
Selain kopi, Gibran juga mengembangkan Goola. Bisnis ini menawarkan minuman tradisional Indonesia seperti es doger dan es kacang hijau dalam kemasan modern yang lebih higienis dan menarik. Goola sempat mendapat perhatian dan bahkan diserahkan pengelolaannya kepada Kaesang sebelum Gibran menjabat sebagai Wali Kota Solo. Namun, aktivitas bisnis ini meredup. Unggahan terakhir di akun Instagram resmi terjadi pada November 2020. Sejak saat itu, tidak ada perkembangan signifikan, dan sejumlah gerai yang terdaftar di peta digital tercatat tutup.
Bisnis berikutnya adalah Siapmas. Usaha ini menjual produk minuman Ngedrink dan camilan Kemripik melalui jaringan minimarket. Produk-produk tersebut sempat tersedia di rak-rak ritel modern. Meski sempat merambah pasar yang lebih luas, bisnis ini diduga tidak lagi aktif. Media sosialnya berhenti mengunggah konten sejak Oktober 2020, dan produknya perlahan menghilang dari peredaran di minimarket.
Yang terakhir adalah Madhang, aplikasi yang diluncurkan Gibran dan Kaesang pada Desember 2017. Platform ini bertujuan mempertemukan ibu rumah tangga yang menjual masakan rumahan dengan pembeli. Gibran berperan sebagai penasihat. Aplikasi ini bekerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro Semarang serta mitra seperti Grab untuk pengantaran. Pada masa awal, Madhang diklaim berhasil memberdayakan ribuan ibu rumah tangga agar bisa berjualan dari dapur sendiri tanpa harus membuka warung. Namun, seiring waktu, aplikasi ini tidak lagi beroperasi. Sejumlah pengguna sempat mengeluhkan aplikasi yang tidak bisa diakses serta dana yang tertahan.
Kegagalan beberapa bisnis tersebut menunjukkan bahwa nama besar dan akses modal tidak otomatis menjamin keberlangsungan usaha. Industri makanan dan minuman sangat kompetitif, bergantung pada selera konsumen, distribusi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan besar seperti pandemi. Ternakopi, misalnya, sempat tumbuh cepat sebelum terhantam pembatasan aktivitas. Sementara Goola dan Siapmas menghadapi tantangan mempertahankan daya tarik di tengah banjir produk serupa. Madhang harus bersaing dengan platform pesan-antar makanan yang sudah lebih mapan.
Bagi pelaku usaha, kisah ini menjadi pengingat bahwa bisnis membutuhkan lebih dari sekadar ide dan jaringan. Riset pasar yang mendalam, pengelolaan operasional yang disiplin, serta kemampuan membaca perubahan perilaku konsumen menjadi penentu utama. Gibran dan Kaesang sendiri tetap melanjutkan perjalanan bisnis di bidang lain, sementara pengalaman kegagalan ini menjadi bagian dari proses belajar di dunia wirausaha.
Image Source: CNBC
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi