500 Orang Terkaya Dunia Tambah Kekayaan Rekor US$2,2 Triliun pada 2025


Surakarta, 1 Januari 2026 - Kekayaan kolektif 500 orang terkaya di dunia mencatatkan rekor pertumbuhan sebesar US$2,2 triliun (sekitar Rp35.750 triliun dengan kurs Rp16.250 per dolar AS pada akhir 2025), sehingga total aset bersih mereka kini mencapai US$11,9 triliun. Lonjakan ini, seperti dilaporkan Bloomberg Billionaires Index pada 31 Desember 2025, didorong utama oleh euforia saham di sektor teknologi besar (Big Tech) dan kecerdasan buatan (AI), di mana pasar saham AS—yang mewakili hampir 50% kekayaan miliarder global—mengalami rally signifikan sepanjang tahun. Pertumbuhan ini menandai tahun terbaik bagi para miliarder sejak 2021, dengan sekitar seperempat dari total keuntungan berasal dari hanya delapan individu utama, termasuk Elon Musk, Larry Ellison, Larry Page, dan Jeff Bezos. Fenomena ini mencerminkan bagaimana inovasi AI tidak hanya mengubah teknologi, tapi juga menciptakan kekayaan masif bagi pemimpin industri.
Elon Musk menjadi miliarder dengan keuntungan terbesar pada 2025, dengan tambahan kekayaan US$190,3 miliar yang mendorong total hartanya menjadi US$622,7 miliar. Peningkatan ini terutama dipicu oleh lonjakan valuasi SpaceX ke US$800 miliar melalui tender offer, serta performa Tesla yang kuat di pasar EV dan AI, meskipun sempat terdampak kontroversi politik Musk selama pemilu AS. Di posisi kedua, Larry Ellison, pendiri Oracle, menambah US$57,7 miliar menjadi US$249,8 miliar, berkat ekspansi Oracle di cloud computing dan AI, termasuk kemitraan dengan perusahaan seperti OpenAI yang mendorong saham Oracle naik 50% sepanjang tahun. Larry Page, salah satu pendiri Google, juga melihat keuntungan besar dari lonjakan saham Alphabet yang didorong inovasi AI seperti Gemini, sementara Jeff Bezos mendapat tambahan dari rebound Amazon Web Services (AWS) di sektor cloud AI. Secara keseluruhan, delapan miliarder ini menyumbang sekitar US$550 miliar dari total kenaikan, menurut analisis Bloomberg.
Tidak ketinggalan, Donald Trump dan keluarganya juga mencatatkan peningkatan kekayaan US$282 juta menjadi US$6,8 miliar, sebagian besar dari bisnis properti, media, dan token kripto seperti World Liberty Financial (WLFI) yang sempat melonjak nilainya berkat hype politik selama pemilu 2024. Trump, yang kini menjabat kembali sebagai presiden, bisa membeli Bitcoin sebanyak 1,3 juta unit atau mendanai seluruh APBN Indonesia dengan hartanya, menurut perhitungan hipotetis dari Irish Examiner. Selain itu, Mark Zuckerberg dari Meta menambah US$28 miliar menjadi US$235 miliar, berkat lonjakan saham Meta yang didorong investasi di metaverse dan AI, seperti yang dilaporkan Robb Report. Pertumbuhan ini menegaskan dominasi Big Tech dalam penciptaan kekayaan, dengan AS yang mewakili 50% dari total kekayaan miliarder global meski hanya 6% populasi dunia.
Lonjakan kekayaan ini mencerminkan tahun yang luar biasa bagi pasar saham, dengan S&P 500 naik 25% dan Nasdaq Composite 30% pada 2025, didorong hype AI dan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Namun, ini juga menimbulkan perdebatan tentang ketimpangan, di mana kekayaan 500 orang ini setara dengan PDB gabungan banyak negara, sementara miliaran orang menghadapi inflasi dan kemiskinan. Di Indonesia, berita ini menjadi inspirasi bagi startup lokal, meskipun valuasi perusahaan seperti GoTo masih jauh di bawah, menunjukkan potensi jika mengadopsi inovasi AI.
