Alasan Bisnis Jokowi Sempat Kolaps Usai Ketipu Orang

10/14/20262 min baca

Alasan Bisnis Jokowi Sempat Kolaps Usai Ketipu Orang
Alasan Bisnis Jokowi Sempat Kolaps Usai Ketipu Orang

Surakarta, 14 Oktober 2026 - Sebelum terjun ke dunia politik, Joko Widodo dikenal sebagai pengusaha mebel di Solo. Bisnisnya berkembang dari nol hingga kemudian memiliki kekayaan puluhan miliar rupiah. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Jokowi pernah mengalami keterpurukan hebat setelah menjadi korban penipuan pesanan besar.

Awal Mula CV Rakabu

Pada 21 Februari 1988, Jokowi mendirikan CV Rakabu dengan modal pinjaman bank sekitar Rp30 juta (sebagian sumber menyebut Rp15 juta dari ayahnya). Nama perusahaan diambil dari nama anak pertamanya, Gibran Rakabuming. Usahanya dimulai dari kios kecil di kawasan Kadipiro, Solo, dengan hanya tiga pekerja. Produk utamanya adalah mebel kayu jati.

Awalnya bisnis berjalan cukup baik. Bengkel selalu ramai dengan suara gergaji dan serbuk kayu. Nama Jokowi mulai dikenal di Solo hingga Jakarta. Ia aktif melakukan pemasaran dari rumah ke rumah dan menerima berbagai pesanan.

Pesanan Rp60 Juta yang Berujung Bencana

Sekitar tahun 1990, Jokowi mendapat order terbesar sejak CV Rakabu berdiri: pesanan mebel senilai Rp60 juta dari seseorang yang ditemuinya di Jakarta. Tergiur nilai pesanan yang besar, ia langsung memproduksi dan mengirimkan seluruh barang tanpa meminta uang muka. Ia juga belum mengenal calon pembeli secara mendalam.

Setelah barang dikirim, pembayaran yang ditunggu tidak kunjung datang. Hari demi hari berlalu tanpa kabar. Jokowi akhirnya menyadari bahwa dirinya menjadi korban penipuan. Seluruh modal produksi habis. Operasional pabrik terhenti, pegawai tidak bisa digaji, dan CV Rakabu yang dibangun dari nol hampir hancur dalam waktu singkat. Jokowi sempat menganggur dan bekerja serabutan selama berbulan-bulan. Ibunya, Sudjiatmi, menggambarkan anaknya sering datang ke rumah dengan wajah murung dan tidak bersemangat.

Bangkit dengan Pelajaran Mahal

Sudjiatmi menjadi salah satu orang yang mendorong Jokowi bangkit. Ia mengeluarkan tabungan dan meminjam ke bank senilai Rp30 juta untuk membantu anaknya kembali menjalankan usaha. Dari titik itu, Jokowi menerapkan pelajaran berharga: selalu meminta uang muka sebelum mengerjakan pesanan. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Pada periode yang sama, CV Rakabu mendapat dukungan melalui program “Bapak Angkat–Anak Angkat” pemerintah. Perusahaan Gas Negara (PGN) menjadi “bapak angkat” dan memberikan pinjaman modal Rp500 juta. Suntikan dana ini menjadi titik balik. Jokowi mulai agresif menambah karyawan, memperluas kapasitas produksi, dan aktif mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri.

Menembus Pasar Ekspor

Sejak 1991, Jokowi aktif menawarkan produk mebel Rakabu ke Singapura. Ia kerap bolak-balik Solo–Jakarta–Singapura dan mulai mendapat pesanan dalam jumlah besar, bahkan belasan kontainer. Dalam beberapa tahun, bisnisnya berkembang pesat. Pada periode 1994–1996, Jokowi memiliki sekitar delapan pabrik di Solo, Sukoharjo, Sragen, dan Boyolali, dengan ratusan hingga ribuan pekerja. Pasarnya menjangkau Eropa, Amerika, Korea, Jepang, dan negara-negara lain.

Pada 2009, perusahaan berubah status menjadi PT Rakabu Sejahtera (kemudian berkolaborasi dengan PT Toba Sejahtra milik Luhut Binsar Pandjaitan). Bisnis mebel inilah yang menjadi fondasi kekayaan keluarga Jokowi sebelum ia terjun ke politik sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan kemudian Presiden.

Pelajaran dari Keterpurukan

Kisah penipuan Rp60 juta mengajarkan Jokowi pentingnya kehati-hatian dalam berbisnis, terutama soal uang muka dan mengenal mitra. Kegagalan itu juga memperlihatkan peran dukungan keluarga dan modal yang tepat waktu dalam memulihkan usaha. Dari bengkel kecil yang hampir gulung tikar, Rakabu mampu tumbuh menjadi eksportir mebel yang dikenal di berbagai negara.

Bagi pelaku usaha, pengalaman Jokowi menjadi pengingat bahwa risiko penipuan selalu ada, terutama ketika tergiur pesanan besar. Menerapkan sistem pembayaran yang aman, membangun reputasi secara bertahap, dan berani bangkit setelah jatuh menjadi kunci penting dalam perjalanan bisnis jangka panjang.

Jokowi sempat bangkrut setelah tertipu pesanan mebel Rp60 juta tanpa uang muka sekitar 1990. Dibantu ibunya dengan modal Rp30 juta dan pinjaman Rp500 juta dari PGN, ia bangkit, menerapkan sistem uang muka, lalu menembus pasar ekspor sejak 1991. Dalam beberapa tahun, CV Rakabu berkembang menjadi delapan pabrik dengan ratusan pekerja dan pasar internasional.

Image Source: Indopolitika

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi