Alasan Ribuan CEO Kompak Bilang AI Tak Berguna
Surakarta, 10 Agustus 2026 - Demam artificial intelligence (AI) memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hampir semua perusahaan berlomba mengadopsinya, mulai dari pembuatan teks, konten visual, hingga analisis data. Namun, manfaat bisnis yang dijanjikan ternyata belum optimal bagi sebagian besar organisasi.
Survei National Bureau of Economic Research (NBER) terhadap hampir 6.000 CEO, CFO, dan eksekutif di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, serta Australia mengungkap temuan yang mengejutkan. Lebih dari 80% responden belum melihat perubahan berarti pada produktivitas maupun jumlah tenaga kerja di perusahaan mereka selama tiga tahun terakhir.
Adopsi Tinggi, Dampak Masih Minim
Ironisnya, tingkat adopsi AI justru sangat tinggi. Sekitar 69% perusahaan telah menggunakannya secara aktif, sementara 75% lainnya berencana menerapkan AI dalam tiga tahun mendatang. Penggunaan paling umum adalah pembuatan teks dengan large language model, pembuatan konten visual, dan pengolahan data dengan machine learning.
Meski demikian, lebih dari 90% manajer mengaku AI belum mengubah jumlah karyawan di perusahaan mereka. Bahkan, 89% responden juga belum merasakan peningkatan produktivitas yang signifikan (diukur dari penjualan per karyawan). Eksekutif yang menggunakan AI secara pribadi rata-rata hanya menghabiskan sekitar 1,5 jam per minggu, dan seperempat dari mereka mengaku tidak menggunakannya sama sekali di tempat kerja.
Harapan vs Realita
Meskipun hasil saat ini belum memuaskan, para eksekutif masih optimistis. NBER memperkirakan AI berpotensi meningkatkan produktivitas sekitar 1,4% dalam tiga tahun ke depan, sekaligus menaikkan output 0,8% dan mengurangi lapangan kerja sekitar 0,7% (setara sekitar 1,75 juta pekerjaan di empat negara yang disurvei pada 2028).
Menariknya, ada kesenjangan ekspektasi. Karyawan justru memperkirakan AI akan meningkatkan lapangan kerja sekitar 0,5%, berbeda dengan pandangan eksekutif senior yang lebih pesimistis terhadap dampak ketenagakerjaan.
Temuan Serupa dari Survei Lain
Sejumlah riset lain memperkuat gambaran ini. Survei PwC menunjukkan hanya sebagian kecil CEO yang merasakan manfaat finansial signifikan dari AI, baik dari sisi efisiensi maupun pendapatan. Deloitte dan berbagai uji coba Microsoft 365 Copilot juga mencatat bahwa manfaat komersial AI belum mampu memenuhi ekspektasi banyak perusahaan, terutama jika adopsi masih bersifat sporadis dan belum diintegrasikan ke dalam proses bisnis utama.
Pelajaran bagi Pelaku Bisnis
Temuan-temuan ini memberi pesan penting: adopsi teknologi tidak otomatis menghasilkan keuntungan. AI tetap membutuhkan strategi yang jelas, perubahan proses kerja, pelatihan sumber daya manusia, serta target penggunaan yang terukur agar investasi tidak sekadar menjadi biaya tambahan.
Perusahaan yang sudah lebih produktif sebelumnya cenderung lebih mudah merasakan manfaat AI. Ini menunjukkan bahwa teknologi lebih efektif sebagai penguat sistem yang sudah baik, bukan sebagai “obat ajaib” bagi organisasi yang prosesnya masih berantakan.
Kesimpulan
AI bukanlah jalan pintas menuju pertumbuhan bisnis. Teknologi ini tetap memiliki potensi besar, tetapi nilai ekonominya baru akan muncul jika diiringi model bisnis yang tepat, proses kerja yang matang, dan target penggunaan yang jelas. Bagi ribuan CEO yang saat ini masih menunggu hasil nyata, pesan utamanya sederhana: sabar, terukur, dan fokus pada integrasi—bukan sekadar adopsi.
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi