Alasan Starlink Bikin Raksasa Internet Satelit Lainnya Tumbang

8/8/20262 min baca

White satellite dish on a stand on rocks.
White satellite dish on a stand on rocks.

Surakarta, 8 Agustus 2026 - Persaingan di industri internet satelit telah berubah secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. HughesNet, salah satu pemain lama asal Amerika Serikat yang selama puluhan tahun mendominasi layanan broadband satelit untuk wilayah pedesaan, resmi mengajukan kebangkrutan (Chapter 11) pada awal Agustus 2026. Penyebab utamanya adalah tekanan hebat dari ekspansi Starlink milik SpaceX.

Sejak Starlink mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2020, basis pelanggan HughesNet terus menyusut. Induk perusahaan, EchoStar, telah kehilangan sekitar separuh pelanggan broadband-nya. Pada kuartal kedua 2026 saja, jumlah pengguna kembali turun sekitar 59 ribu menjadi kisaran 622 ribu hingga 641 ribu pelanggan. Perusahaan secara terbuka mengakui bahwa tren penurunan ini bersifat struktural dan tidak diharapkan akan berbalik.

Tekanan Keuangan dan Restrukturisasi

Kondisi keuangan yang semakin berat memaksa HughesNet mengajukan perlindungan kebangkrutan. Perusahaan tidak memiliki kas yang cukup untuk melunasi utang sekitar US$1,5 miliar yang jatuh tempo. Sebagai bagian dari restrukturisasi, HughesNet berencana memangkas sekitar 400 karyawan atau hampir sepertiga dari total tenaga kerjanya.

Dalam pernyataannya, perusahaan menjelaskan bahwa restrukturisasi dilakukan untuk mengurangi beban utang, memperkuat struktur permodalan, serta mempercepat transformasi bisnis menuju sektor perusahaan (enterprise), pemerintah, dan pertahanan. Layanan kepada pelanggan yang masih tersisa akan tetap dilanjutkan selama proses reorganisasi.

Keunggulan Teknologi LEO vs GEO

HughesNet mengandalkan satelit geostasioner (GEO) yang beroperasi di ketinggian sekitar 36.000 km. Teknologi ini memiliki latency tinggi (sekitar 600 milidetik) dan kapasitas yang terbatas. Sebaliknya, Starlink menggunakan konstelasi satelit orbit rendah (LEO) yang jauh lebih dekat ke Bumi. Hasilnya adalah latency jauh lebih rendah (20–40 milidetik), kecepatan lebih tinggi, dan pengalaman pengguna yang mendekati internet terestrial.

Keunggulan ini membuat Starlink sangat menarik bagi pelanggan di daerah terpencil yang sebelumnya bergantung pada layanan GEO. Amazon juga sedang membangun jaringan LEO-nya sendiri (Project Kuiper), menambah tekanan kompetisi di masa depan.

Pelajaran dari Kasus HughesNet

Kasus HughesNet menjadi bukti nyata bagaimana disrupsi teknologi mampu menjatuhkan pemimpin pasar dalam waktu relatif singkat. Pengalaman puluhan tahun di industri tidak lagi cukup ketika pesaing hadir dengan teknologi yang secara fundamental lebih unggul.

Perusahaan kini memfokuskan diri pada segmen B2B, pemerintah, dan pertahanan yang masih memiliki potensi pertumbuhan, sambil mengurangi ketergantungan pada pasar konsumen yang semakin tergerus. Langkah ini menunjukkan bahwa ketika keunggulan kompetitor sulit dikejar, transformasi model bisnis menjadi pilihan yang tidak bisa ditunda.

Bagi pelaku bisnis di berbagai sektor, kisah HughesNet menjadi pengingat bahwa inovasi dan kemampuan membaca perubahan perilaku pelanggan kini menjadi aset yang jauh lebih berharga dibanding sekadar pengalaman panjang di industri.

Kesimpulan

Kehadiran Starlink tidak hanya menggeser peta persaingan internet satelit, tetapi juga memaksa pemain lama seperti HughesNet untuk mengubah arah bisnis secara fundamental. Disrupsi LEO telah mengubah aturan main secara permanen. Perusahaan yang gagal beradaptasi dengan cepat berisiko kehilangan posisi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi