Apa yang Bisa Dipelajari Pelaku Bisnis dari Viralnya Masalah Konten Kahf?

10/16/20262 min baca

Apa yang Bisa Dipelajari Pelaku Bisnis dari Viralnya Masalah Konten Kahf?
Apa yang Bisa Dipelajari Pelaku Bisnis dari Viralnya Masalah Konten Kahf?

Surakarta, 16 Oktober 2026 - Belakangan ini, jenama skincare pria Kahf ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena produk barunya, melainkan karena satu unggahan di Threads yang memicu kemarahan warganet Malaysia hingga seruan boikot.

Kronologi Singkat

Pada 5 Oktober 2026, Timnas Indonesia berhasil juara FIFA ASEAN Cup perdana setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti di Stadion Gelora Bung Karno. Dalam suasana euforia kemenangan, akun resmi Kahf di Threads mengunggah meme bertuliskan “Hati-hati Beda Level”.

Gambar tersebut menampilkan bendera Indonesia di bagian atas garis peringatan, sementara bendera Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, dan beberapa negara lain ditempatkan di bawahnya. Caption-nya bernada candaan sepak bola, semacam “Tutor cara masuk Eropa dong”.

Bagi sebagian warganet Malaysia, unggahan itu dianggap merendahkan negara-negara tetangga. Reaksi cepat menyebar. Tagar #BoikotKahf muncul, banyak yang membatalkan pesanan, membagikan foto produk Kahf di tempat sampah, bahkan menyerukan boikot terhadap merek-merek sekelompok seperti Wardah, Emina, dan Make Over (semuanya di bawah ParagonCorp).

Kahf segera menghapus unggahan tersebut dan mengeluarkan permintaan maaf resmi. Perusahaan menyatakan bahwa konten itu tidak dapat diterima, tidak mencerminkan nilai-nilai serta rasa hormat yang dijunjung merek, dan menekankan bahwa hubungan masyarakat Malaysia–Indonesia berakar pada persaudaraan. Mereka berkomitmen untuk melakukan yang lebih baik.

Mengapa Reaksi Begitu Keras?

Kahf bukan merek yang asing di Malaysia. Produknya dijual di gerai kesehatan dan kecantikan besar serta platform online, dan memiliki akun berbahasa Melayu. Ketika sebuah merek yang sudah “masuk” ke pasar lokal justru mengeluarkan konten yang dinilai merendahkan, rasa kecewa menjadi lebih kuat.

Persaingan sepak bola antara Indonesia dan Malaysia memang sudah lama sensitif. Candaan yang terasa “biasa” di kalangan pendukung bisa berubah menjadi isu nasionalisme begitu keluar dari akun resmi perusahaan.

Pelajaran untuk Pelaku Bisnis

1. Konten bisnis berbeda dengan konten personal

Akun pribadi boleh lebih bebas bersenda gurau. Akun merek mewakili perusahaan dan semua pasar yang dilayaninya. Apa yang lucu bagi satu kelompok bisa menyinggung kelompok lain.

2. Tren viral tidak selalu aman untuk diikuti

Euforia kemenangan olahraga memang menggoda untuk ikut merayakan. Namun, konten yang menyentuh perbandingan antarnegara, apalagi yang mengandung unsur “lebih tinggi–lebih rendah”, sangat berisiko.

3. Pasar lintas negara membutuhkan sensitivitas ekstra

Semakin luas jangkauan produk, semakin ketat standar konten yang harus diterapkan. Apa yang diterima di Indonesia belum tentu diterima di Malaysia, atau sebaliknya.

4. SOP konten perlu diperkuat

Setiap unggahan resmi idealnya melalui filter: apakah konten ini bisa menyinggung sensasi nasional, agama, atau budaya di pasar mana pun? Apakah ada risiko disalahartikan?

5. Permintaan maaf harus cepat dan tulus

Kahf relatif cepat menghapus postingan dan meminta maaf. Langkah ini membantu meredam, meski kepercayaan yang hilang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan.

6. Citra bisa rusak lebih cepat daripada produk

Banyak konsumen yang sebelumnya puas dengan kualitas produk Kahf tiba-tiba mengubah sikap hanya karena satu konten. Reputasi merek di era media sosial sangat rapuh.

Kasus Kahf menjadi pengingat bahwa di era digital, satu unggahan bisa berdampak besar terhadap bisnis. Candaan yang terasa ringan di internal tim konten bisa berubah menjadi krisis reputasi lintas negara.

Bagi pelaku usaha, pelajaran utamanya sederhana: konten merek harus selalu mempertimbangkan audiens terluas, bukan hanya yang paling dekat. Keberhasilan produk saja tidak cukup. Cara merek berkomunikasi di ruang publik ikut menentukan apakah konsumen tetap percaya atau beralih.

Image Source: Monocle

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi