AS Makin Tekor: Perang Melawan Iran Habiskan Rp190 Triliun Hanya dalam Enam Hari Pertama


Surakarta, 12 Maret 2026 – Perang terbuka Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran baru berjalan enam hari, namun sudah menelan biaya fantastis. Senator Demokrat Chris Coons mengungkapkan bahwa Pentagon memperkirakan pengeluaran militer AS mencapai minimal US$11,3 miliar atau sekitar Rp190 triliun (kurs Rp16.800 per dolar AS) dalam periode tersebut. Angka ini disampaikan dalam diskusi tertutup dengan anggota Kongres pada Selasa (10 Maret 2026), dan Coons menyebut estimasi tersebut “kurang lebih akurat”.
Biaya terbesar berasal dari penggunaan amunisi canggih. Hanya dalam dua hari pertama konflik, AS sudah menghabiskan lebih dari US$5,6 miliar untuk rudal pertahanan udara Patriot PAC-3, SM-2, dan Tomahawk yang digunakan untuk mengintersepsi ribuan drone dan rudal balistik Iran. Beberapa sumber militer menyebut pengeluaran harian bahkan bisa mencapai US$2 miliar, terutama setelah serangan Iran menghantam fasilitas strategis seperti radar AN/FPS-132 di Al Udeid (Qatar) dan markas Armada Kelima di Bahrain.
Kerugian alutsista juga sangat signifikan. Tiga unit jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh akibat friendly fire di Kuwait, dengan nilai penggantian mencapai US$282 juta. Selain itu, kerusakan pada terminal komunikasi satelit dan pangkalan logistik di berbagai negara Teluk menambah beban anggaran pertahanan AS. Menurut analisis awal dari Congressional Budget Office yang bocor ke media, total kerugian materiil AS dalam minggu pertama sudah mendekati US$2 miliar.
Pernyataan Senator Coons langsung menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Banyak anggota Kongres dari Partai Demokrat menyoroti janji kampanye Presiden Donald Trump pada Pemilu 2024 yang menjanjikan penurunan biaya hidup rakyat AS. “Kita sedang menghabiskan ratusan triliun rupiah untuk perang yang seharusnya bisa dihindari melalui diplomasi,” ujar Coons. Sementara itu, anggota Partai Republik seperti Lindsey Graham membela kebijakan Trump dengan menyebut bahwa “biaya ini jauh lebih murah daripada membiarkan Iran memiliki senjata nuklir”.
Konflik ini berawal dari serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu gelombang balasan besar-besaran dari Iran. Serangan rudal dan drone Iran telah menghantam puluhan fasilitas AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, dan UEA. Akibatnya, harga minyak Brent melonjak hampir 30% ke level US$110 per barel, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun hingga 70%.
Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam karena konflik ini berpotensi memengaruhi harga BBM domestik dan inflasi. Presiden Prabowo Subianto kembali menawarkan Indonesia sebagai mediator netral, sesuai janjinya untuk mendukung perdamaian di Timur Tengah.
Dengan biaya yang terus membengkak setiap hari, banyak analis mempertanyakan keberlanjutan strategi militer AS di Timur Tengah. Perang ini tidak hanya menguras anggaran pertahanan, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global.
