AS Rugi Rp33,8 Triliun dalam 5 Hari Perang: Radar Al Udeid Hancur, Tiga F-15E Tumbang, Markas Rusak

3/5/20262 min baca

AS Rugi Rp33,8 Triliun dalam 5 Hari Perang
AS Rugi Rp33,8 Triliun dalam 5 Hari Perang

Surakarta, 5 Maret 2026 – Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran baru memasuki hari kelima, namun kerugian militer Washington sudah membengkak drastis. Total nilai alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang rusak atau hancur ditaksir mencapai hampir US$2 miliar atau sekitar Rp33,8 triliun (kurs Rp16.900 per dolar AS per 5 Maret 2026). Angka ini dirilis berdasarkan analisis awal dari sumber intelijen Barat dan laporan Anadolu Agency yang mengutip data satelit komersial.

Kerugian terbesar berasal dari sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 (PAVE PAWS) yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Radar canggih bernilai US$1,1 miliar ini dilaporkan hancur total setelah dihantam rudal balistik Iran pada hari pertama serangan balasan (28 Februari 2026). Radar ini merupakan salah satu aset paling vital AS untuk mendeteksi peluncuran rudal jarak jauh dari Iran dan Rusia.

Selain itu, tiga unit jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS jatuh di Kuwait akibat insiden “friendly fire” oleh sistem pertahanan udara Kuwait yang salah mengidentifikasi target. Seluruh awak selamat, namun nilai penggantian ketiga pesawat mencapai US$282 juta. Di Bahrain, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama juga menjadi sasaran utama. Terminal komunikasi satelit dan beberapa gedung komando rusak berat, dengan kerugian material diperkirakan puluhan juta dolar.

Serangan Iran tidak berhenti di pangkalan formal. Beberapa pelabuhan komersial yang rutin digunakan militer AS, seperti Pelabuhan Jebel Ali di Dubai (UEA), juga terdampak. Data satelit Planet Labs yang dianalisis The New York Times menunjukkan setidaknya enam fasilitas pendukung logistik mengalami kerusakan sedang hingga berat.

IRGC Iran mengklaim semua serangan ini sebagai “balasan sah” atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, Pentagon belum merilis angka resmi kerugian, namun sumber militer AS yang dikutip Reuters mengakui bahwa serangan rudal dan drone Iran jauh lebih masif dan akurat dibandingkan perkiraan awal.

Akibat serangan ini, harga minyak Brent langsung melonjak lebih dari 9% dalam 48 jam, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis hingga 70%. Ribuan personel AS di kawasan Teluk kini berada dalam status siaga maksimal, dan puluhan penerbangan militer dialihkan.

Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini, sementara Presiden Prabowo Subianto kembali menawarkan diri sebagai mediator netral. Kerugian US$2 miliar dalam lima hari ini menjadi pengingat betapa mahalnya harga perang modern, bahkan bagi superpower seperti Amerika Serikat.

Sumber gambar: Bloomberg