Bagaimana Pandemi Mengubah Cara Jualan Rawon?

10/4/20262 min baca

Bagaimana Pandemi Mengubah Cara Jualan Rawon?
Bagaimana Pandemi Mengubah Cara Jualan Rawon?

Surakarta, 4 Oktober 2026 - Bisnis Mak Tien bermula pada akhir 2019. Setelah pensiun sebagai karyawan, Tien Mujiati—yang akrab disapa Mak Tien—tidak ingin berdiam diri. Hobinya memasak mendorongnya membuka warung rawon di garasi rumah yang tidak terpakai di Solo. Awalnya, usaha berjalan cukup lancar. Pelanggan lokal datang untuk menikmati rawon hangat yang dimasaknya sendiri.

Namun, baru beberapa bulan beroperasi, pandemi Covid-19 menghantam. Pembatasan mobilitas membuat warung sepi. Konsumen enggan keluar rumah, dan usaha berbasis kunjungan langsung hampir berhenti total. Situasi ini memaksa Mak Tien berpikir ulang. Ia tidak mau menyerah dan hanya menunggu keadaan membaik.

Dari Makanan Siap Santap menjadi Bumbu Kemasan

Mak Tien kemudian mengubah model bisnisnya. Alih-alih menjual rawon siap santap, ia mengolah bumbu rawon yang bisa dimasak sendiri di rumah. Produk dikemas dalam botol plastik seharga Rp20.000. Pemasaran dilakukan melalui Facebook dan Instagram. Strategi ini terbukti tepat. Permintaan mulai datang dari luar Solo, terutama dari Jakarta, Tangerang, dan Bekasi—wilayah yang penduduknya banyak merantau dan rindu rasa masakan rumah.

Untuk memperluas pilihan, Mak Tien menambah produk bawang merah goreng dan bawang putih goreng. Kedua produk ini juga menjadi andalan karena banyak dibutuhkan di dapur rumah tangga, terutama saat orang lebih sering memasak sendiri selama pandemi. Ia tetap mempertahankan prinsip tidak menggunakan pengawet, sehingga produk tetap alami.

Tantangan Daya Tahan dan Solusi Kemasan

Perubahan produk menghadirkan masalah baru. Tanpa pengawet, bumbu rawon dalam botol plastik hanya mampu bertahan sekitar dua minggu pada suhu ruang. Bahkan meski mengandung minyak yang seharusnya membantu mengawetkan, produk masih rentan berjamur. Akibatnya, distribusi terbatas dan risiko kerugian meningkat.

Masalah tersebut dijawab melalui inovasi kemasan. Setelah bergabung sebagai binaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) dan mengikuti pelatihan pengemasan, Mak Tien beralih ke kemasan vakum. Hasilnya signifikan: produk mampu bertahan hingga tiga bulan pada suhu ruang. Isi kemasan juga lebih banyak (sekitar 200 ml) dengan harga Rp22.500. Inovasi ini membuka peluang distribusi yang jauh lebih luas.

Produk Mak Tien kini tidak hanya dikonsumsi pelanggan di sekitar Solo. Konsumen membawanya hingga ke luar negeri, termasuk Amerika Serikat dan Australia. Semua produknya sudah mengantongi sertifikasi halal dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga semakin dipercaya pasar.

Pelajaran dari Adaptasi di Masa Krisis

Kisah Mak Tien mencerminkan pola yang banyak dialami UMKM kuliner Indonesia selama pandemi. Banyak warung dan restoran yang sebelumnya bergantung pada pelanggan datang langsung terpaksa berinovasi. Sebagian beralih ke layanan pesan antar, sebagian lagi mengubah produk menjadi bentuk kemasan atau frozen food yang lebih tahan lama dan mudah dikirim.

Dalam kasus Mak Tien, pandemi tidak hanya memaksa perubahan cara jualan, tetapi juga mengubah model bisnis secara fundamental. Dari warung yang bergantung pada lokasi dan pelanggan lokal, usahanya berkembang menjadi produk kemasan berbasis digital dengan jangkauan pasar yang jauh lebih luas. Pelatihan dari SETC menjadi katalis penting, terutama dalam aspek pengemasan dan pengembangan usaha.

Pada akhirnya, pengalaman ini menunjukkan bahwa krisis bisa menjadi titik balik. Dengan kemauan beradaptasi, memanfaatkan media digital, dan terus belajar, sebuah usaha kecil yang dimulai dari garasi rumah mampu bertahan sekaligus menemukan peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Mak Tien membuka warung rawon di garasi rumah akhir 2019. Pandemi membuat warung sepi, sehingga ia beralih menjual bumbu rawon kemasan lewat media sosial. Tantangan daya tahan diatasi dengan kemasan vakum setelah pelatihan SETC, sehingga produk bisa bertahan 3 bulan dan menjangkau hingga luar negeri. Pandemi mengubah model bisnisnya dari warung lokal menjadi produk kemasan berjangkauan luas.

Image Source: CNBC Indonesia

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi