Belajar Bisnis dari Jalanan hingga Membangun Sampoerna

9/29/20262 min baca

Belajar Bisnis dari Jalanan hingga Membangun Sampoerna
Belajar Bisnis dari Jalanan hingga Membangun Sampoerna

Surakarta, 29 September 2026 - Pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee (1893–1956), menjalani masa kecil yang jauh dari kata mudah. Ia dilahirkan di Fujian, China, dalam keluarga miskin. Di usia sangat muda, ia sudah kehilangan ibu. Pada 1898, ayahnya membawa Seeng Tee yang saat itu berusia sekitar lima tahun dan kakak perempuannya meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan lebih baik.

Perjalanan mereka penuh cobaan. Saat singgah di Singapura, keterbatasan biaya memaksa ayahnya merelakan anak perempuannya diadopsi oleh keluarga setempat. Hanya berdua, ayah dan anak laki-laki itu akhirnya tiba di Surabaya. Namun, enam bulan kemudian sang ayah meninggal akibat kolera dan malaria. Seeng Tee menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda.

Belajar Bisnis Sejak Kecil

Sebelum meninggal, ayahnya sempat menitipkan Seeng Tee kepada sebuah keluarga Tionghoa di Bojonegoro. Di rumah tersebut, ia belajar bahasa Mandarin sekaligus mengenal dasar-dasar bisnis melalui usaha produksi dan penjualan kecap asin milik keluarga angkatnya. Alih-alih bersekolah formal, Seeng Tee mulai bekerja sejak usia tujuh tahun.

Ia merantau ke Surabaya dan bekerja di sebuah restoran kecil selama sekitar 18 bulan tanpa hari libur. Pengalaman itu mengajarkannya bahwa penghasilan harus diperoleh melalui kerja keras dan ketekunan. Setelah mampu menabung, ia membeli sepeda bekas dan menggunakannya untuk berjualan arang secara berkeliling di Surabaya. Tak lama kemudian, wilayah dagangnya meluas hingga Batavia (Jakarta). Bahkan sebelum berusia 10–11 tahun, Seeng Tee sudah menjajakan makanan kecil dan roti kepada penumpang kereta rute Batavia–Surabaya, termasuk dengan cara melompat masuk gerbong pada malam hari.

Perjalanan panjang di jalanan dan kereta api itu membentuk kemampuan dagangnya sejak dini. Ia belajar membaca kebutuhan konsumen, mencari lokasi penjualan yang strategis, memanfaatkan jalur distribusi, serta mengelola modal kecil dengan sangat hemat.

Menikah dan Memasuki Industri Rokok

Pada 1912, Liem Seeng Tee menikahi Siem Tjiang Nio. Kehidupan awal pasangan muda ini sangat sederhana. Mereka sempat tinggal di rumah bedeng di bawah jembatan Gang Gembong, Surabaya. Atas dorongan istrinya, Seeng Tee bekerja sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik kecil di Lamongan selama sekitar enam bulan.

Dengan tabungan yang dikumpulkan bersama, terutama dari hasil usaha istrinya yang berjualan kue, mereka menyewa sebuah warung kecil di kawasan kota tua Surabaya (Jalan Cantian Pojok). Warung itu menjual kebutuhan pokok sekaligus tembakau. Seeng Tee kembali berjualan keliling dengan sepeda, kali ini membawa tembakau racikannya sendiri dalam toples kaca. Ia menawarkan berbagai campuran sesuai selera pelanggan, yang kemudian digulung menjadi rokok kretek.

Mendirikan Fondasi Sampoerna

Pada 1913, usaha kecil tersebut diformalkan dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Produk andalannya, Dji Sam Soe (234), menjadi ikon yang bertahan hingga kini. Di kemudian hari, perusahaan berubah nama menjadi Handel Maatschappij Sampoerna, dan setelah Perang Dunia II menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna. Pada 1930-an, Liem Seeng Tee bahkan mengadopsi nama “Sampoerna” (yang berarti sempurna) sebagai nama keluarga.

Kisah pendiri Sampoerna ini menunjukkan bahwa pendidikan bisnis tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Pengalaman langsung di jalanan, ketekunan menghadapi kesulitan, keberanian mengambil peluang, serta kemitraan yang solid dengan pasangan hidup turut membentuk fondasi seorang pengusaha besar. Dari seorang anak yatim piatu yang berjualan arang dan makanan di kereta, Liem Seeng Tee membangun salah satu kerajaan rokok terbesar di Indonesia.

Liem Seeng Tee lahir miskin di Fujian (1893), kehilangan orang tua sejak kecil, dan tumbuh tanpa pendidikan formal. Ia belajar bisnis dari keluarga angkat di Bojonegoro, bekerja di restoran, berjualan arang dan makanan di kereta, lalu bersama istri merintis usaha tembakau di Surabaya. Pada 1913 ia mendirikan perusahaan yang kelak menjadi HM Sampoerna dengan produk ikonik Dji Sam Soe. Pengalaman jalanan membentuknya menjadi pengusaha tangguh.

Image Source: Liputan6

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi