Berawal dari Bucin ke Istri, Tahu Sumedang Jadi Bisnis Turun-Temurun

10/20/20262 min baca

Fried tofu is dipped in delicious red chili sauce
Fried tofu is dipped in delicious red chili sauce

Surakarta, 20 Oktober 2026 - Tahu Sumedang selama ini dikenal sebagai kuliner khas Jawa Barat yang gurih, renyah di luar, dan lembut di dalam. Namun di balik popularitasnya, ada kisah keluarga imigran asal Tiongkok yang memulainya dari rasa sayang seorang suami kepada istrinya.

Pada awal 1900-an, Ong Ki No (juga disebut Ong Kino) bersama istrinya datang ke Sumedang untuk berdagang. Sang istri merindukan tao-fu, tahu khas kampung halaman mereka di Tiongkok. Ong Ki No yang ingin menyenangkan istrinya rela mencari kedelai di daerah yang masih asing baginya. Ia menemukan kedelai lurik di wilayah Conggeang, bahan yang kemudian menjadi dasar tahu buatannya. Dengan air jernih dari mata air Sumedang, Ong Ki No mulai membuat tahu putih rebus ala Tiongkok untuk konsumsi keluarga.

Sayangnya, produk tersebut tidak langsung diterima masyarakat Sumedang. Rasa dan teksturnya belum sesuai dengan selera lokal. Usaha jualan tahu putih rebus pun tak berkembang seperti yang diharapkan. Sekitar tahun 1917, Ong Ki No dan istrinya memutuskan pulang ke Tiongkok. Sementara itu, anak mereka, Ong Bung Keng (atau Ong Bungkeng), datang ke Sumedang untuk meneruskan usaha keluarga.

Inovasi Sederhana yang Mengubah Segalanya

Bung Keng menyadari bahwa resep lama perlu diubah agar lebih menarik bagi konsumen setempat. Ia mencoba menggoreng tahu putih tersebut. Hasilnya mengejutkan: tekstur garing di luar, bagian dalam berongga dan lembut, serta aroma yang menggugah selera. Perubahan sederhana itu menjadi titik balik bisnis keluarga.

Tahu goreng buatan Bung Keng mulai menarik perhatian masyarakat. Pada 1928, Bupati Sumedang Pangeran Soeriaatmadja kebetulan melintas dan mencicipi tahu tersebut. Ia memuji rasanya dan mendorong Bung Keng untuk menjualnya secara luas. Sejak saat itu, tahu buatan keluarga Ong dikenal sebagai Tahu Bungkeng. Lokasinya di Jalan 11 April, Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara, hingga kini masih menjadi salah satu titik bersejarah industri tahu Sumedang.

Warisan Lintas Generasi

Usaha ini terus diwariskan secara turun-temurun. Dari Ong Bung Keng, bisnis dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga kini sudah memasuki generasi keempat hingga kelima. Nama-nama seperti Ong Yu Kim, Suryadi (Ong Che Ciang), dan penerusnya tetap menjaga cita rasa khas sambil menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Ciri khas tahu Bungkeng—kulit renyah, isi lembut, dan rasa gurih—tetap dipertahankan, meski ada inovasi produk turunan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Sumedang pun semakin lekat dengan identitas sebagai “Kota Tahu”. Keberadaan ratusan pengrajin tahu di daerah ini tidak lepas dari jejak awal yang ditinggalkan keluarga Ong. Interaksi budaya antara imigran Tionghoa dan masyarakat Sunda menciptakan produk yang akhirnya diterima sebagai kuliner lokal.

Pelajaran Bisnis dari Kisah Tahu Bungkeng

Kisah Tahu Bungkeng menunjukkan beberapa hal penting bagi pelaku usaha:

  • Produk yang gagal menarik perhatian pasar belum tentu tidak punya potensi. Terkadang yang perlu diubah bukan seluruh bisnisnya, melainkan cara produk dibuat dan disesuaikan dengan selera konsumen.

  • Inovasi tidak selalu harus rumit. Mengubah metode pengolahan (dari rebus menjadi goreng) saja sudah cukup untuk menciptakan diferensiasi yang kuat.

  • Keberlanjutan bisnis keluarga bergantung pada kemampuan generasi penerus menjaga esensi produk sambil beradaptasi dengan zaman.

  • Cerita di balik produk—dalam hal ini rasa sayang suami kepada istri—bisa menjadi kekuatan emosional yang memperkuat identitas merek.

Dari keinginan sederhana memuaskan kerinduan istri akan makanan kampung halaman, lahirlah salah satu ikon kuliner Jawa Barat yang bertahan lebih dari satu abad. Tahu Sumedang bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang adaptasi, ketekunan, dan warisan yang terus dijaga lintas generasi.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi