Berawal dari Jualan Kopi Rumahan, Imigran China Ini Bangun Kerajaan Bisnis Kapal Api

11/5/20262 min baca

Berawal dari Jualan Kopi Rumahan, Imigran China Ini Bangun Kerajaan Bisnis Kapal Api
Berawal dari Jualan Kopi Rumahan, Imigran China Ini Bangun Kerajaan Bisnis Kapal Api

Surakarta, 5 November 2026 - Go Soe Loet adalah perantau asal Fujian, China, yang tiba di Surabaya pada 1920-an. Seperti banyak imigran Tionghoa masa itu, ia datang mencari kehidupan lebih baik. Awalnya ia berjualan sayur di sekitar rumah. Namun pada 1927, bersama dua saudaranya, ia memulai usaha kopi rumahan di kawasan pecinan Surabaya.

Usaha itu sederhana. Mereka memilih, menyangrai, dan menumbuk biji kopi sendiri di rumah berukuran kecil. Produk diberi nama Kopi Bubuk Hap Hoo Tjan atau HAP Hootjan, yang dalam bahasa Hokkien berarti “kapal api.” Nama itu terinspirasi dari kapal uap yang membawa mereka ke Hindia Belanda. Untuk membedakan produk di tengah persaingan ketat, mereka memakai kemasan kertas cokelat sederhana.

Go Soe Loet menjajakan kopinya dengan pikulan kayu, berjalan kaki hingga 10 kilometer setiap hari. Ia berkeliling kampung dan kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Banyak pelanggannya adalah pelaut dan pekerja pelabuhan. Bisnis ini bertahan melewati berbagai gejolak ekonomi, termasuk masa penjajahan dan kemerdekaan.

Generasi kedua kemudian memegang peranan penting. Salah satu putra Go Soe Loet, Go Tek Whie yang kemudian dikenal sebagai Soedomo Mergonoto (lahir 1950), sejak muda ikut membantu. Ia berjualan menggunakan sepeda ontel ke pelabuhan dan kampung-kampung. Sebelum sepenuhnya fokus pada kopi, Soedomo sempat bekerja sebagai tukang kerok ban dan kernet bemo. Pengalaman itu membentuk ketangguhannya.

Pada 1970-an, Soedomo mulai mengambil alih dan memodernisasi usaha keluarga. Ia mengubah nama merek dari HAP Hootjan menjadi Kapal Api. Logo kapal api dipilih karena dekat dengan pelanggan pelaut sekaligus melambangkan harapan dan kemajuan.

Soedomo menyadari mesin pengolahan kopi yang sudah tua membuat kualitas menurun. Ia mencoba membuat mesin sendiri dengan biaya hanya ratusan ribu rupiah, tetapi hasilnya mengecewakan. Pada 1978–1982, ia memutuskan membeli mesin roasting modern dari Jerman seharga sekitar Rp123–137 juta dengan bantuan pinjaman Bank Pembangunan Indonesia. Keputusan itu meningkatkan kualitas produk secara signifikan.

Pada 1979, Soedomo bersama saudara mendirikan PT Santos Jaya Abadi. Perusahaan mulai membangun pabrik dan menggunakan mesin otomatis berkapasitas ratusan kilogram per jam. Untuk memperluas pasar, Soedomo berani beriklan di TVRI—saat itu masih jarang dilakukan produsen kopi lokal—dengan menggandeng pelawak Paimo. Distribusi diperluas ke berbagai kota besar di luar Jawa.

Pada 1985, Kapal Api mulai mengekspor ke Timur Tengah, Taiwan, Hong Kong, dan Malaysia. Perusahaan terus berinovasi dengan meluncurkan berbagai merek: Kapal Api sebagai andalan kopi bubuk, ABC untuk segmen lebih terjangkau, Good Day yang menyasar anak muda dengan rasa modern, serta Excelso sebagai lini premium dan jaringan kedai kopi.

Kapal Api Group berkembang menjadi salah satu pemain terbesar industri kopi Indonesia. Perusahaan pernah mengklaim menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar kopi kemasan nasional dan tetap menjadi pemimpin di segmen kopi bubuk hingga kini. Dari usaha rumahan yang dijajakan dengan pikulan, bisnis keluarga imigran ini tumbuh menjadi kerajaan kopi yang mencakup manufaktur, distribusi, kafe, hingga ekspor.

Kisah Kapal Api menunjukkan pentingnya regenerasi, keberanian berinvestasi pada kualitas, dan kemampuan membaca pasar. Dari tangan Go Soe Loet yang berjualan keliling hingga modernisasi yang dilakukan Soedomo Mergonoto, merek ini berhasil bertahan hampir seabad dan tetap relevan di tengah perubahan selera konsumen Indonesia.

Image Source: Santos Jaya Abadi

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi