Berubahnya Bisnis Andanu Prasetyo: Dari Distro Menjadi Kopi Tuku


Surakarta, 19 Agustus 2026 - Andanu Prasetyo, atau yang lebih akrab disapa Tyo, mulai terjun ke dunia bisnis sejak 2005. Saat itu, ia masih remaja dan membuka distro baju yang dipadukan dengan konsep semi-kafe serta kedai es krim bersama kakaknya. Pengalaman awal tersebut menjadi titik tolak baginya menemukan bisnis yang lebih serius dan berkelanjutan.
Dari Distro ke Toodz House
Memasuki 2010, Tyo membangun Toodz House di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Kafe ini mengusung konsep comfort food—menyajikan makanan rumahan, minuman, dan kopi. Di sinilah ia banyak belajar tentang selera pasar, operasional kafe, dan manajemen bisnis kuliner. Toodz House menjadi laboratorium baginya sebelum akhirnya menemukan fokus yang lebih tajam.
Lima tahun kemudian, pada 2015, Tyo membuka usaha baru yang kini dikenal luas sebagai Toko Kopi Tuku. Gerai pertamanya berdiri sederhana di Jalan Cipete Raya. Menariknya, keputusan masuk ke bisnis kopi bukan karena ia seorang pencinta kopi sejati. Ia justru melihat peluang setelah mempelajari cara meracik kopi dan ingin menciptakan bisnis yang bisa memberi kontribusi bagi petani sekaligus konsumen.
Fokus pada Kopi Lokal
Berbeda dengan Toodz House yang menyediakan berbagai makanan dan minuman, Tuku difokuskan penuh pada kopi Indonesia. Tyo ingin mengangkat biji kopi lokal dan membuatnya lebih mudah dinikmati masyarakat luas. Menu andalan Es Kopi Susu Tetangga—yang menggunakan gula aren—menjadi pionir tren kopi susu kekinian di Indonesia.
Untuk memulainya, Tyo mengeluarkan modal hampir Rp500 juta. Ia mengembangkan produk berdasarkan masukan para pencinta kopi dan tetangga sekitar. Strategi mendengarkan pasar ini membuat Tuku menawarkan rasa yang lebih mudah diterima banyak kalangan, bukan hanya penikmat kopi spesialis.
Pertumbuhan yang Konsisten
Dari satu gerai kecil di Cipete, Tuku terus berkembang. Tahun 2016, mereka membangun warehouse dan roastery sendiri agar kualitas biji kopi lebih terjaga. Ekspansi berlanjut ke berbagai kota. Hingga kini, Tuku mengelola sekitar 80 gerai yang tersebar di 11 kota di Indonesia, termasuk perluasan ke Bali dan bahkan Amsterdam, Belanda.
Selain menjual kopi, Tyo aktif dalam asosiasi industri makanan dan minuman. Ia terlibat dalam pembahasan regulasi, edukasi pasar, inovasi produk, serta menjaga hubungan baik dengan kompetitor. Pendekatan ini menunjukkan bahwa bisnis yang dibangunnya tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga keberlanjutan industri secara keseluruhan.
Nilai yang Dijaga
Di bawah naungan PT Makna Angan Karya Andanu (MAKA), Tyo juga mengembangkan merek-merek lain di industri F&B. Komitmen terhadap keberlanjutan terlihat dari berbagai inisiatif, seperti pengelolaan limbah kemasan, penanaman pohon, dan kerja sama dengan petani kopi serta gula aren.
Kisah Andanu Prasetyo menjadi contoh bahwa transformasi bisnis bisa lahir dari perjalanan panjang, uji coba, dan kepekaan terhadap peluang. Dari distro kecil, kafe comfort food, hingga menjadi salah satu brand kopi lokal paling dikenal, Tuku membuktikan bahwa fokus, konsistensi, dan kontribusi pada ekosistem bisa membawa bisnis tumbuh besar.
Perjalanan Andanu Prasetyo dari distro menjadi Kopi Tuku menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis sering lahir dari proses belajar yang panjang. Dengan fokus pada kopi lokal, mendengarkan pasar, dan menjaga nilai keberlanjutan, Tuku berhasil tumbuh dari satu kedai kecil menjadi jaringan gerai yang tersebar di berbagai kota—bahkan mulai menjejak pasar internasional.
Image Source: Suara Surabaya
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi