Bhutan Lepas 100 Bitcoin Senilai US$6,7 Juta ke QCP Capital
Surakarta, 13 Februari 2026 - Bhutan, negara kecil di Himalaya yang dikenal dengan kebijakan "Gross National Happiness" dan penggunaan energi terbarukan, baru-baru ini melepas 100 Bitcoin (BTC) senilai US$6,7 juta atau sekitar Rp109 miliar (berdasarkan kurs Rp16.300 per dolar AS pada awal Februari 2026) ke wallet perusahaan trading kripto QCP Capital berbasis Singapura. Transaksi ini, seperti dilacak oleh Arkham Intelligence pada 6 Februari 2026, menjadi bagian dari pola penjualan periodik yang telah dilakukan Bhutan dalam tiga bulan terakhir, di mana mereka aktif mengirimkan BTC ke berbagai alamat wallet berbeda untuk mengelola likuiditas. Meskipun harga BTC telah anjlok 46% dari puncak tertingginya (all-time high/ATH) US$126.000 pada akhir 2025 menjadi sekitar US$68.000 saat ini menurut CoinMarketCap, langkah Bhutan ini bukan tanda panic selling, melainkan strategi treasury management yang terencana untuk mengonversi aset kripto menjadi fiat guna mendanai kebutuhan nasional.
Bhutan telah menjadi pemain unik di dunia kripto sejak 2019, ketika mereka mulai mining BTC menggunakan surplus energi hidroelektrik dari bendungan-bendungan mereka, yang menghasilkan listrik berlebih selama musim hujan. Menurut laporan CCN.com pada 5 Februari 2026, Bhutan telah menambang BTC dalam skala besar melalui perusahaan negara Druk Holding & Investments (DHI), mengonversi energi terbarukan menjadi "digital gold" untuk diversifikasi cadangan devisa. Dalam lima bulan terakhir, Bhutan telah menjual lebih dari US$100 juta BTC dalam batch-batch sekitar US$50 juta, termasuk penjualan terbaru US$22 juta dalam seminggu, dengan transfer 184 BTC senilai US$14 juta dan 100 BTC senilai US$8,3 juta ke QCP Capital, seperti yang dianalisis The Block pada 5 Februari 2026. Ini mengurangi holdings mereka dari puncak 13.000 BTC menjadi sekitar 5.700 BTC senilai US$405 juta saat ini, menurut data Arkham.
Selain BTC, Bhutan juga melepas ratusan Ethereum (ETH) senilai puluhan juta dolar dalam periode yang sama, meninggalkan sisa 24 ETH bernilai US$49.000 dalam portofolio mereka. Menurut Crypto Saving Expert pada 5 Februari 2026, penjualan ini adalah pola konsisten sejak September 2025, di mana Bhutan menjual ke rally harga untuk profit-taking, bukan capitulation karena penurunan. "Bhutan bukan panic-selling; mereka telah mining BTC sejak 2019 menggunakan hydropower surplus untuk convert excess electricity to digital assets," tulis DL News, menambahkan bahwa ini adalah treasury management yang cerdas, dengan profit keseluruhan setidaknya 500% dari investasi mining mereka. Namun, penurunan harga BTC baru-baru ini—dipicu oleh faktor seperti outflow ETF US$486 juta dan volatilitas pasar global—telah membuat holdings mereka menyusut dari US$1,4 miliar pada puncak ke US$412 juta, seperti yang dilaporkan Yahoo Finance.
Langkah Bhutan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor kripto, karena negara-negara seperti El Salvador juga mengalami kerugian unrealized US$292 juta akibat penurunan yang sama, meskipun tetap membeli 1 BTC per hari. Di sisi lain, Bhutan tetap untung secara keseluruhan dari strategi mining jangka panjang mereka, dengan penjualan periodik untuk mengamankan likuiditas di tengah krisis ekonomi global. Menurut CoinDesk pada 4 Februari 2026, aktivitas ini menunjukkan bahwa bahkan negara penambang BTC seperti Bhutan mulai diversifikasi untuk mengurangi eksposur, terutama dengan prediksi harga BTC sideways di Q1 2026 karena capital inflows yang kering. Di Indonesia, berita ini menjadi pelajaran tentang risiko kripto untuk kebijakan nasional, dengan Bappebti memantau volatilitas BTC yang bisa mempengaruhi investor lokal.
Dengan sisa 5.600 BTC senilai US$379 juta dan strategi penjualan berkelanjutan, Bhutan tetap teguh pada visi kripto mereka, meski kerugian saat ini menekan portofolio di tengah krisis pasar global.
