Bisnis Rokok Jadi Jalan Djoko Susanto Membangun Alfamart


Surakarta, 27 Agustus 2026 - Setelah keluar dari SMA pada 1966, Djoko Susanto (nama Tionghoa: Kwok Kwie Fo) sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan perakitan radio. Namun, ia kemudian memilih membantu bisnis kelontong milik ibunya di kawasan Petojo dan Pasar Arjuna, Jakarta. Warung bernama Toko Sumber Bahagia itu awalnya menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari kacang tanah, minyak sayur, sabun, hingga rokok.
Seiring waktu, Djoko melihat peluang besar dari bisnis rokok yang perputarannya cepat dan marginnya relatif stabil. Ia mengubah fokus warung tersebut menjadi grosir rokok, terutama bermitra dengan Gudang Garam. Strategi itu membuahkan hasil. Pada 1987, Djoko disebut telah memiliki 15 jaringan toko grosir dan menjadi salah satu penjual rokok Gudang Garam terbesar.
Titik Balik Bersama Putera Sampoerna
Kesuksesannya menarik perhatian Putera Sampoerna, pemilik PT HM Sampoerna. Pertemuan mereka di akhir 1980-an mengubah arah bisnis Djoko. Ia dipercaya menjadi direktur penjualan PT HM Sampoerna dan berperan penting dalam memasarkan Sampoerna A Mild yang diluncurkan pada 1989. Produk tersebut kemudian menjadi salah satu merek rokok paling populer di Indonesia, dan kontribusi Djoko membantu Sampoerna naik ke peringkat kedua setelah Gudang Garam.
Di tengah perjalanan tersebut, Djoko bersama Putera Sampoerna mendirikan PT Alfa Retailindo pada 1989. Dengan modal sekitar Rp2 miliar, sebuah gudang Sampoerna di Jalan Lodan No. 80, Jakarta, diubah menjadi Toko Gudang Rabat. Awalnya toko ini berfungsi sebagai pusat distribusi rokok, namun perlahan berkembang menjadi toko yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari.
Transformasi Menjadi Minimarket
Pada 1990-an, Gudang Rabat telah memiliki puluhan gerai dan kemudian berkembang menjadi Alfa Minimart. Nama tersebut resmi berubah menjadi Alfamart pada 1 Januari 2003. Jaringan minimarket ini terus tumbuh pesat dengan konsep toko serba ada yang dekat dengan masyarakat dan harga terjangkau.
Perjalanan bisnis Djoko sempat menghadapi perubahan besar. Pada 2005, Putera Sampoerna menjual asetnya kepada Philip Morris International. Karena Philip Morris tidak tertarik dengan bisnis ritel, saham Alfa Minimart akhirnya dibeli kembali oleh Djoko melalui PT Sigmantara Alfindo. Sejak saat itu, ia memegang kendali penuh dan terus mengembangkan jaringan Alfamart, termasuk mendirikan Alfamidi dan bermitra dengan Lawson.
Meski sempat ada transaksi dengan Carrefour terkait sebagian gerai Alfa, bisnis ritel Djoko justru semakin menguat. Kini Grup Alfamart mengelola lebih dari 23.000 gerai di Indonesia (termasuk Alfamidi dan Lawson) serta ribuan gerai di Filipina.
Dari Warung Kelontong ke Orang Terkaya
Kesuksesan itu mengantarkan Djoko Susanto masuk jajaran orang terkaya Indonesia. Berdasarkan data Forbes, kekayaannya tercatat sekitar US$2,1 miliar. Kisahnya menjadi bukti bahwa kejelian membaca peluang—dari bisnis rokok hingga ritel modern—dapat mengubah warung kelontong sederhana menjadi salah satu jaringan minimarket terbesar di tanah air.
Dari membantu warung ibu, bangkit setelah kebakaran pasar, hingga membangun kerajaan ritel, perjalanan Djoko Susanto menunjukkan pentingnya ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil peluang di setiap tahap bisnis.
Bisnis rokok menjadi jembatan penting bagi Djoko Susanto menuju kesuksesan di dunia ritel. Dari Toko Sumber Bahagia hingga Alfamart yang kini memiliki puluhan ribu gerai, kisahnya menginspirasi bahwa kesuksesan besar sering lahir dari langkah kecil yang dijalankan dengan konsisten dan visi jangka panjang.
Image Source: Dicintai
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi