Blockchain Jadi Solusi Anti-Pemalsuan Ijazah: Cara Kerja Teknologi Ini dan Contoh di Indonesia

2/25/20262 min baca

a woman in a graduation gown holding a book
a woman in a graduation gown holding a book

Surakarta, 25 Februari 2026 - Masalah ijazah palsu di Indonesia masih menjadi momok serius di dunia pendidikan. Setiap tahun, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menerima ribuan laporan kasus ijazah palsu yang digunakan untuk melamar kerja, mendaftar kuliah, atau bahkan mengikuti seleksi CPNS. Menurut data Kemendikbudristek tahun 2025, lebih dari 12.000 kasus pemalsuan dokumen pendidikan berhasil terungkap, menyebabkan kerugian materiil dan hilangnya kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan. Di sinilah teknologi blockchain muncul sebagai solusi inovatif yang menawarkan keamanan tinggi, transparansi, dan verifikasi instan.

Blockchain adalah sistem penyimpanan data yang bersifat terdesentralisasi dan immutable (tidak dapat diubah). Setiap informasi yang dimasukkan ke dalamnya akan dienkripsi menggunakan algoritma kriptografi, menghasilkan kode unik yang disebut hash. Hash ini berfungsi seperti sidik jari digital — setiap perubahan sekecil apa pun akan mengubah hash tersebut secara keseluruhan, sehingga pemalsuan menjadi hampir mustahil. Saat universitas menerbitkan ijazah digital, dokumen tersebut ditandatangani menggunakan private key milik institusi, lalu disimpan di jaringan blockchain. Salinan data ini kemudian didistribusikan ke ribuan komputer (node) di seluruh dunia, sehingga siapa pun bisa memverifikasi keasliannya hanya dengan memindai QR code atau mengakses link verifikasi.

Keunggulan utama teknologi ini adalah transparansi dan keamanan. Tidak ada pihak yang bisa mengubah data setelah dicatat, bahkan universitas penerbit sekalipun. Proses verifikasi juga jauh lebih cepat dan murah dibandingkan metode konvensional yang memerlukan surat resmi atau kunjungan fisik ke kampus. Menurut laporan World Economic Forum (WEF) tahun 2025 tentang “Blockchain in Education”, teknologi ini dapat mengurangi biaya verifikasi dokumen hingga 80% dan hampir menghilangkan risiko pemalsuan.

Contoh nyata di Indonesia adalah Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Pada akhir 2025, Udinus resmi menjadi kampus pertama di Indonesia yang menerapkan ijazah berbasis blockchain secara penuh, bekerja sama dengan Dubai Blockchain Center dan Indonesia Blockchain Center (IBC). Setiap lulusan Udinus mulai angkatan 2026 akan menerima ijazah digital yang dapat diverifikasi secara instan oleh perusahaan atau institusi mana pun di dunia. Rektor Udinus, Prof. Edi Noersasongko, menyatakan bahwa langkah ini menjadikan Udinus sebagai role model nasional dalam pemanfaatan blockchain untuk pendidikan dan anti-fraud.

Secara global, universitas ternama seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menggunakan blockchain untuk sertifikat sejak 2017, sementara University of Bahrain dan beberapa universitas di Uni Emirat Arab juga telah mengadopsi sistem serupa. Di Indonesia, tren ini diharapkan diikuti oleh kampus-kampus lain, mengingat potensi besar blockchain untuk meningkatkan kredibilitas lulusan Indonesia di pasar kerja global.

Dengan adopsi blockchain, masalah ijazah palsu yang selama ini meresahkan dunia pendidikan bisa segera diatasi. Teknologi ini tidak hanya melindungi integritas akademik, tetapi juga membuka peluang baru bagi lulusan untuk bersaing di era digital.