Bos IKEA Pilih Hidup Miskin Meski Harta Segunung, Mengapa?


Surakarta, 21 September 2026 - Ingvar Kamprad membangun IKEA menjadi salah satu jaringan perabot rumah tangga terbesar di dunia. Saat meninggal pada 2018, kekayaannya sempat diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar. Namun, ia justru memilih menjalani hidup yang sangat sederhana—bahkan dijuluki “Paman Scrooge” atau “The Miser” oleh media.
Kesederhanaan sebagai Cara Memahami Konsumen
Bagi Kamprad, kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara memahami masyarakat. Dengan hidup seperti konsumen biasa, ia merasa lebih mudah melihat masalah dan kebutuhan yang harus diselesaikan bisnis. Dalam wawancara dengan Forbes, ia pernah menyatakan bahwa sebagai orang kaya, ia punya tanggung jawab untuk tetap menjadi “orang biasa” agar bisa mengerti keinginan dan kesulitan masyarakat.
Prinsip tersebut bahkan dituangkan dalam The Testament of a Furniture Dealer yang ditulisnya pada 1976. Manifesto internal IKEA ini menjadi semacam “kitab suci” perusahaan. Di dalamnya, Kamprad menempatkan pemborosan sebagai sesuatu yang harus dihindari dan kesederhanaan sebagai nilai penting. Ia menekankan visi IKEA: menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi sebanyak mungkin orang melalui produk fungsional dengan harga yang terjangkau.
Kebiasaan Sehari-hari yang Ekstrem
Prinsip itu terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kamprad terbiasa:
Bepergian dengan penerbangan kelas ekonomi
Naik kereta kelas dua
Menginap di hotel sederhana atau budget
Mengendarai mobil Volvo tua (termasuk Volvo 240 tahun 1993 yang digunakannya selama bertahun-tahun)
Membeli pakaian di pasar loak atau barang bekas
Mendaur ulang kantong teh
Bahkan kadang mengambil garam dan merica dari restoran untuk dibawa pulang
Mencukur rambut di tempat murah, termasuk menunggu perjalanan ke negara dengan harga lebih rendah
Ia pernah berkata, “Bagaimana saya bisa meminta orang-orang yang bekerja untuk saya bepergian dengan murah jika saya sendiri bepergian dengan mewah? Itu soal kepemimpinan yang baik.”
Menjadi Budaya Perusahaan
Bagi IKEA, sikap tersebut kemudian berkembang menjadi budaya perusahaan. Para pemimpin dan karyawan didorong untuk rendah hati, saling peduli, bertanggung jawab, serta tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya. Memboroskan sumber daya bahkan disebut sebagai “dosa besar” di IKEA. Karyawan diharapkan menulis di kedua sisi kertas dan memperlakukan pekerjaan di IKEA sebagai komitmen jangka panjang.
Di sinilah kesederhanaan menjadi relevan sebagai strategi bisnis. Perusahaan yang memahami bagaimana konsumen menggunakan uang akan lebih mudah menemukan cara menciptakan produk bernilai tanpa membebani biaya. IKEA dikenal dengan pendekatan desain fungsional, kemasan flat-pack yang efisien, serta operasional yang meminimalkan biaya tanpa mengorbankan kualitas inti.
Prinsip efisiensi yang dimulai dari pendirinya kemudian menjadi bagian dari cara perusahaan membangun produk dan operasional hingga kini. Kamprad menunjukkan bahwa kesederhanaan pribadi bisa menjadi fondasi budaya organisasi yang kuat dan berkelanjutan.
Ingvar Kamprad, pendiri IKEA, memilih hidup sangat sederhana meski memiliki kekayaan besar: naik kelas ekonomi, pakai Volvo tua, beli baju bekas, dan menghindari pemborosan. Ia menuangkan prinsip ini dalam The Testament of a Furniture Dealer (1976). Kesederhanaan menjadi cara memahami konsumen sekaligus budaya perusahaan yang membuat IKEA mampu menawarkan produk fungsional dengan harga terjangkau.
Image Source: Dezeen
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi