Bosan Hidup Bergelimang Harta, Mendiang Bob Sadino Pilih Jadi Miskin

11/3/20262 min baca

Bosan Hidup Bergelimang Harta, Mendiang Bob Sadino Pilih Jadi Miskin
Bosan Hidup Bergelimang Harta, Mendiang Bob Sadino Pilih Jadi Miskin

Surakarta, 3 November 2026 - Mendiang Bob Sadino lahir dari keluarga yang berkecukupan. Namun, kenyamanan hidup sejak kecil justru membuat pengusaha legendaris Indonesia itu merasa jenuh. “Sejak kecil saya terbiasa hidup berkecukupan sampai merasa bosan. Akhirnya, saya memilih memulai hidup dari nol,” ungkap Bob dalam buku Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (2009).

Bambang Mustari Sadino, nama lengkapnya, lahir pada 9 Maret 1933 di Tanjungkarang (kini Bandar Lampung). Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Ketika orang tuanya meninggal saat ia berusia 19 tahun, Bob mewarisi seluruh harta keluarga karena kakak-kakaknya sudah dianggap mapan. Alih-alih menikmati warisan, ia memilih menghabiskan sebagian untuk berkeliling dunia dan menetap sekitar sembilan tahun di Belanda. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, serta sempat berkarier di Unilever. Di Belanda pula ia bertemu istri kelak, Soelami Soejoed.

Pada 1967, Bob bersama keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa dua mobil Mercedes. Satu dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, yang saat itu masih sepi. Mobil satunya ia jadikan taksi dengan dirinya sendiri sebagai sopir. Namun, kecelakaan membuat mobil tersebut hancur dan sumber penghasilannya hilang. Bob kemudian bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah harian demi menghidupi istri dan anak-anaknya. Kondisi ini sempat membuatnya depresi.

Titik balik datang ketika Bob bertemu mantan Jenderal Angkatan Udara Sri Mulyono Herlambang, perintis usaha ayam ras di Indonesia. Sri memberikan 50 ekor ayam ras sebagai modal awal. Bob yang tidak memiliki latar belakang peternakan belajar secara otodidak dari majalah berbahasa Belanda. Ia mulai menjual telur ayam negeri dari pintu ke pintu di kawasan Kemang. Saat itu, telur ayam negeri masih jarang dan lebih diminati ekspatriat serta orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri. Awalnya hanya beberapa kilogram per hari, lalu berkembang hingga puluhan kilogram. Ia bahkan sering menyisipkan bunga anggrek dalam kemasan sebagai sentuhan personal.

Dua tahun kemudian, sekitar 1969–1970, Bob mendirikan Kem Chicks, toko yang menjual telur, sayuran, dan daging. Bisnis berkembang pesat pada 1980-an. Ia membuka beberapa cabang, mempekerjakan ratusan orang, lalu mengembangkan Kem Food (pengolahan daging dan sosis) serta Kem Farm (hortikultura dengan sistem hidroponik, yang saat itu masih baru di Indonesia). Bob menjadi salah satu pelopor pengenalan ayam broiler, produk olahan daging, dan sayuran hidroponik di pasar lokal.

Meski bisnisnya semakin besar, Bob tetap dikenal dengan gaya hidup sederhana. Ia kerap tampil dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek, bahkan di acara formal. Ia mendorong anak muda untuk berwirausaha daripada hanya mencari pekerjaan. Menurutnya, ilmu bisnis lebih banyak didapat dari pengalaman lapangan ketimbang bangku kuliah. Bob meninggal dunia pada 19 Januari 2015 di usia 81 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, menyusul istrinya yang lebih dulu wafat.

Kisah Bob Sadino menunjukkan bahwa keputusan meninggalkan zona nyaman bisa menjadi awal perjalanan panjang. Dari kuli bangunan dan penjual telur pintu ke pintu, ia membangun kerajaan bisnis pangan yang bertahan puluhan tahun. Yang lebih penting, ia meninggalkan pesan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari keberanian memulai, ketekunan, dan kemampuan melihat peluang di sekitar.

Image Source: Espos

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi