Cemas dengan AI, Hampir Setengah Mahasiswa AS Pertimbangkan Ganti Jurusan Kuliah

4/18/20262 min baca

Professor lectures to students in a classroom setting.
Professor lectures to students in a classroom setting.

Surakarta, 18 April 2026 - Laporan terbaru dari Lumina Foundation dan Gallup mengungkap fakta mencengangkan: hampir setengah atau 47% mahasiswa di Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengganti jurusan kuliah mereka karena khawatir terhadap kemajuan kecerdasan buatan (AI). Survei yang dilakukan terhadap ribuan mahasiswa ini menunjukkan kekhawatiran besar bahwa AI akan menggantikan banyak jenis pekerjaan di masa depan, sehingga mereka berusaha mencari bidang studi yang lebih “tahan AI” atau sulit digantikan oleh mesin.

Menariknya, keinginan untuk mengubah jurusan ini lebih dominan di kalangan mahasiswa laki-laki. Sekitar 60% responden pria menyatakan pertimbangan tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswi. Alasan utama mereka adalah keinginan mendapatkan pekerjaan yang tetap relevan meski teknologi AI terus berkembang pesat, seperti bidang yang membutuhkan kreativitas tinggi, empati, kepemimpinan, atau keterampilan interpersonal yang sulit direplikasi mesin.

Pernyataan ini selaras dengan peringatan CEO BlackRock, Larry Fink, yang menyebut angkatan lulusan tahun 2026 akan menghadapi pasar kerja yang sangat sulit. “AI is going to disrupt many of those types of jobs,” ujar Fink. Menurutnya, kecepatan perkembangan AI mengubah lanskap dunia kerja secara dramatis. Meski AI menciptakan lapangan pekerjaan baru, tenaga kerja saat ini — termasuk lulusan baru — belum siap mengisinya karena kurangnya keterampilan adaptasi.

Data World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2026 memperkuat kekhawatiran ini. WEF memproyeksikan bahwa hingga 2030, sekitar 85 juta pekerjaan akan hilang karena otomatisasi AI, sementara 97 juta pekerjaan baru akan muncul. Namun, transisi ini tidak merata. McKinsey Global Institute memperkirakan hingga 45% aktivitas kerja saat ini bisa diotomatisasi dalam 10 tahun ke depan, terutama di bidang analisis data, administrasi, customer service, dan coding tingkat menengah.

Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat. Survei Bank Dunia dan Kementerian Pendidikan Tinggi menunjukkan bahwa sekitar 35-40% mahasiswa khawatir jurusan mereka kurang relevan di era AI. Jurusan seperti hukum, bisnis, dan ilmu sosial-humaniora paling banyak dipertanyakan, sementara jurusan teknik, data science, dan kesehatan relatif lebih aman.

Para ahli menyarankan agar mahasiswa tidak hanya ganti jurusan, tetapi juga meningkatkan literasi AI, prompt engineering, critical thinking, kreativitas, dan kemampuan kolaborasi manusia-mesin. Mereka yang mampu menggabungkan kemampuan kognitif tinggi dengan pemahaman teknologi AI justru akan menjadi tenaga kerja paling dicari di masa depan.

Peringatan dari CZ (Changpeng Zhao) dan Larry Fink semakin menegaskan bahwa era AI bukan hanya mengancam pekerjaan rutin, melainkan juga profesi yang selama ini dianggap “pintar”. Bagi generasi muda, saatnya beradaptasi cepat atau berisiko tertinggal.