CEO BlackRock Larry Fink Peringatkan Lulusan 2026 Sulit Dapat Kerja karena AI
Surakarta, 24 Maret 2026 - Larry Fink, CEO BlackRock, mengeluarkan peringatan keras kepada para lulusan perguruan tinggi tahun 2026 yang akan memasuki dunia kerja. Menurutnya, angkatan ini berpotensi menghadapi tingkat pengangguran tertinggi dalam beberapa tahun terakhir — bahkan tanpa adanya resesi ekonomi. Pernyataan ini disampaikan Fink saat berbicara di BlackRock’s 2026 Infrastructure Summit, seperti dilaporkan Fortune dan berbagai media pada Maret 2026.
“AI is going to disrupt many of those types of jobs,” ujar Fink, merujuk pada peran AI yang semakin cepat mengubah lanskap pekerjaan, khususnya posisi entry-level dan white-collar yang selama ini menjadi pintu masuk utama bagi fresh graduates. Ia menambahkan bahwa meskipun AI akan menciptakan banyak pekerjaan baru, masyarakat dan tenaga kerja saat ini belum siap mengisinya. “AI is going to create many jobs, and we’re not prepared as a society to fulfill those jobs. And to me, this is a crisis,” tegas Fink.
Data dari Federal Reserve Bank of New York mendukung kekhawatiran ini. Tingkat pengangguran di kalangan lulusan baru berusia 22–27 tahun mencapai 5,6%–5,8% pada awal 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pekerja dengan gelar sarjana secara keseluruhan (sekitar 3,1%). Tingkat underemployment (bekerja di posisi yang tidak memerlukan gelar sarjana) bahkan mencapai rekor 41,8%–42,5% pada kuartal akhir 2025 — tertinggi sejak 2020. Mayoritas jurusan humaniora, seni, dan ilmu sosial mengalami tingkat pengangguran dan underemployment yang lebih tinggi.
World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan bahwa AI dan teknologi terkait akan mendisplace sekitar 85 juta pekerjaan secara global hingga 2030, tetapi sekaligus menciptakan 97 juta pekerjaan baru. Namun, transisi ini tidak merata. McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa hingga 45% aktivitas kerja saat ini bisa diotomatisasi dalam 10 tahun ke depan, terutama tugas rutin seperti analisis data, administrasi, dan customer service tingkat dasar.
Fink menekankan bahwa lulusan harus segera beradaptasi dengan menguasai keterampilan yang sulit digantikan AI, seperti pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan mengelola serta mengarahkan AI itu sendiri (prompt engineering, ethical AI, dan AI literacy). Ia juga menyoroti peluang besar di bidang skilled trades (pekerjaan terampil seperti teknisi, plumbing, atau instalasi infrastruktur AI), yang justru kekurangan tenaga kerja karena banyak generasi muda lebih memilih jalur kuliah tradisional.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat. Survei dari World Bank dan Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di kalangan lulusan sarjana muda mencapai sekitar 7–8% pada 2025, dengan underemployment yang lebih tinggi di kalangan jurusan sosial-humaniora. Pakar lokal menyarankan agar perguruan tinggi segera merevisi kurikulum dengan menambahkan literasi AI dan keterampilan praktis.
Peringatan Fink menjadi pengingat bahwa era AI bukan hanya mengancam pekerjaan, tetapi juga membuka peluang baru bagi mereka yang siap beradaptasi. Bagi lulusan 2026, kunci sukses bukan lagi sekadar gelar sarjana, melainkan kemampuan terus belajar dan bekerja sama dengan teknologi.
