China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang: Ketegangan Asia di Tengah Pamer Teknologi Robot


Surakarta, 27 Februari 2026 - Pemerintah China secara resmi memberlakukan pembatasan ekspor ke 40 perusahaan Jepang pada 24 Februari 2026, dengan alasan keamanan nasional, yang semakin memperuncing ketegangan antara dua raksasa ekonomi Asia. Kebijakan ini menargetkan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam teknologi tinggi dan pertahanan, seperti yang diumumkan Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya. "Langkah ini ditujukan untuk membatasi dorongan remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang serta diklaim sepenuhnya sah menurut hukum internasional," tegas kementerian tersebut, menambahkan bahwa ini adalah respons terhadap kebijakan Jepang yang semakin agresif di bidang pertahanan, termasuk peningkatan anggaran militer dan kolaborasi dengan AS untuk mengimbangi pengaruh China di Indo-Pasifik.
Pembatasan ini bukan hal baru dalam dinamika hubungan China-Jepang, yang telah memanas sejak akhir 2025 akibat sengketa wilayah di Laut China Timur dan Laut China Selatan, serta dukungan Jepang terhadap Taiwan. Menurut laporan Reuters pada 25 Februari 2026, langkah China ini mirip dengan pembatasan ekspor gallium dan germanium ke AS pada 2023, yang bertujuan membatasi akses bahan baku kritis untuk teknologi militer. Jepang, yang bergantung pada impor dari China untuk komponen elektronik dan bahan langka, diperkirakan akan mengalami kerugian hingga US$2 miliar per tahun, menurut analisis dari Nikkei Asia. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) langsung merespons dengan menyatakan bahwa kebijakan ini "tidak adil" dan akan berdampak pada rantai pasok global, sambil mempertimbangkan langkah balasan seperti diversifikasi impor ke Vietnam dan India.
Eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah robot humanoid China memamerkan aksi kung fu yang spektakuler di Spring Festival Gala pada 20 Februari 2026, yang langsung viral dengan jutaan views di TikTok dan Weibo. Robot tersebut, dikembangkan oleh perusahaan seperti UBTech Robotics, menunjukkan kemampuan gerak lincah dan presisi tinggi, yang menurut analis militer dari Jane's Defence Weekly pada 26 Februari 2026, adalah sinyal integrasi teknologi robot dalam dokumen Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. PLA telah menginvestasikan miliaran dolar untuk robot militer sejak 2023, dengan tujuan memperkuat kemampuan tempur asimetris terhadap musuh seperti AS dan Jepang. Video robot kung fu ini, yang menampilkan gerakan bela diri tradisional dengan kecepatan super, dianggap sebagai propaganda kekuatan teknologi China, terutama di tengah ketegangan dengan Jepang yang semakin mendukung aliansi AUKUS untuk mengimbangi pengaruh Beijing.
Dampak ekonomi dari pembatasan ini sangat luas. Harga saham perusahaan Jepang seperti Sony dan Panasonic turun 2-3% di Tokyo Stock Exchange pasca-pengumuman, sementara pasar global khawatir tentang gangguan rantai pasok semikonduktor, seperti yang dianalisis Bloomberg pada 25 Februari 2026. Di Indonesia, yang bergantung pada impor teknologi dari kedua negara, Kementerian Perdagangan menyatakan keprihatinan atas eskalasi ini pada 25 Februari 2026, karena bisa mempengaruhi harga elektronik dan komponen manufaktur. Meski demikian, perjanjian dagang baru antara Indonesia dan AS pada Februari 2026 diharapkan melindungi ekspor Indonesia dari tarif serupa.
Ketegangan China-Jepang ini juga mencerminkan dinamika geopolitik Asia yang semakin panas, dengan AS di belakang Jepang melalui pakta pertahanan. Para analis seperti dari Council on Foreign Relations (CFR) memprediksi bahwa jika tidak ada de-eskalasi, konflik dagang ini bisa berkembang menjadi isu keamanan yang lebih besar pada 2026.
Sumber gambar: Global Times
