China Percepat Pembangunan Kapal Selam Nuklir Generasi Baru


Surakarta, 6 Maret 2026 – China sedang mempercepat program pengembangan kapal selam nuklir generasi terbaru yang dilengkapi rudal balistik jarak jauh (SLBM). Langkah ini membuat Amerika Serikat (AS) semakin waspada terhadap pergeseran keseimbangan kekuatan militer bawah laut di kawasan Indo-Pasifik dan global. Kapal selam baru tersebut dirancang mampu meluncurkan rudal yang menjangkau target di daratan AS meskipun diluncurkan dari perairan relatif dekat dengan wilayah China, meningkatkan kemampuan second-strike yang signifikan.
Wakil Laksamana Angkatan Laut AS Richard Seif menyatakan bahwa kemajuan militer bawah laut China merupakan “tantangan serius” bagi dominasi lama AS. “Teknologi baru mereka semakin mendekati kemampuan Barat, baik dalam hal keheningan, daya tahan, dan jangkauan rudal,” ujar Seif dalam sidang Kongres baru-baru ini. Sementara itu, Kepala Intelijen Angkatan Laut AS Laksamana Muda Mike Brookes memperkirakan armada kapal selam China bisa mencapai sekitar 80 unit pada 2035, dengan hampir setengahnya bertenaga nuklir. Saat ini China sudah memiliki lebih dari 60 kapal selam, mayoritas masih diesel-listrik, tetapi produksi kapal nuklir Type 096 (generasi baru) berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan awal.
Produksi kapal selam China memang meningkat tajam. Menurut laporan Pentagon China Military Power Report 2025 yang dirilis Februari lalu, Beijing kini mampu memproduksi hingga 3-4 kapal selam nuklir per tahun — dua kali lipat dibandingkan dekade sebelumnya. Kapal selam Type 096 diyakini memiliki teknologi pump-jet yang lebih senyap, rudal JL-3 dengan jangkauan hingga 10.000 km, dan kemampuan patroli yang lebih lama di bawah laut.
Di tengah perkembangan ini, situasi geopolitik global semakin memanas pasca-konflik Iran melawan AS dan Israel yang telah menewaskan lebih dari seribu orang. China bersama Rusia secara terbuka mengecam operasi militer AS-Israel dan mendorong pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Meskipun Beijing belum menunjukkan keterlibatan militer langsung, beberapa analis militer menilai percepatan program kapal selam nuklir China ini bisa menjadi bentuk dukungan tidak langsung terhadap Iran. Dengan kapal selam yang lebih senyap dan mampu berpatroli jauh, China berpotensi mengganggu jalur pasokan AS di Samudra Hindia dan Pasifik jika konflik meluas.
Pakar dari US Naval War College menyebut bahwa pada 2030-an, China bisa menyamai atau bahkan melebihi jumlah kapal selam nuklir AS. Hal ini membuat Pentagon mulai merevisi strategi Indo-Pasifik, termasuk mempercepat program kapal selam Virginia-class dan Australia AUKUS.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian karena Selat Malaka dan Laut China Selatan berada di jalur strategis yang sama. Kementerian Pertahanan RI terus memantau perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan, sambil memperkuat pertahanan maritim melalui program kapal selam Nagapasa.
Dengan kecepatan pembangunan yang luar biasa, program kapal selam nuklir China tidak hanya mengubah peta kekuatan militer dunia, tetapi juga berpotensi memengaruhi dinamika konflik global, termasuk di Timur Tengah.
Sumber gambar: Euronews
