Chuck Feeney Pendiri Duty Free Shoppers Rela Jadi Miskin Demi Habiskan Harta untuk Beramal

9/7/20262 min baca

Chuck Feeney Pendiri Duty Free Shoppers Rela Jadi Miskin Demi Habiskan Harta untuk Beramal
Chuck Feeney Pendiri Duty Free Shoppers Rela Jadi Miskin Demi Habiskan Harta untuk Beramal

Surakarta, 7 September 2026 - Charles Francis Feeney atau Chuck Feeney pernah menikmati hidup sebagai miliarder. Kekayaannya berasal dari Duty Free Shoppers (DFS), jaringan ritel bebas bea yang ia dirikan bersama Robert Miller dan berkembang menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia di bidangnya. Namun, ia justru memilih menghabiskan hampir seluruh kekayaannya untuk membantu orang lain.

Pada 1982, Feeney mendirikan Atlantic Philanthropies sebagai wadah untuk menyalurkan hartanya. Dua tahun kemudian, ia secara diam-diam mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya di DFS ke yayasan tersebut. Fokusnya mencakup pendidikan, kesehatan, hak asasi manusia, rekonsiliasi, serta berbagai isu sosial di lebih dari 20 negara di lima benua.

Filantropi dalam Kerahasiaan

Menariknya, Feeney menjalankan aksi filantropinya secara diam-diam. Selama sekitar 15 tahun pertama, keberadaan yayasannya bahkan nyaris tidak diketahui publik. Ia kemudian dijuluki “James Bond of Philanthropy” karena kemampuan menjaga kerahasiaan donasi dalam jumlah besar. Identitasnya baru terbongkar pada 1997 setelah The New York Times memublikasikan kisahnya.

Setelah itu, Feeney justru semakin aktif membagikan kekayaannya. Total donasinya mencapai lebih dari US$8 miliar (sekitar Rp130–150 triliun, tergantung kurs). Sebagian besar disalurkan untuk pendidikan (termasuk hampir US$1 miliar ke almamaternya, Cornell University), kesehatan, hak asasi manusia, dan berbagai proyek sosial di Irlandia, Amerika Serikat, Vietnam, Afrika Selatan, Australia, dan tempat lain.

Prinsip “Giving While Living”

Feeney mengusung prinsip “Giving While Living”. Ia percaya kekayaan lebih berarti ketika digunakan untuk menciptakan perubahan saat pemiliknya masih hidup, bukan ditunda hingga setelah meninggal. Strategi tersebut membuat kekayaannya terus menyusut. Pada akhir 2020, Atlantic Philanthropies resmi ditutup setelah menyelesaikan seluruh komitmennya, dan Feeney menyatakan dirinya praktis “miskin” dengan hanya menyisakan sedikit dana untuk kebutuhan hidupnya dan istrinya. Namun, ia justru menganggap kondisi itu sebagai pencapaian yang memuaskan.

Kisah Feeney kemudian menginspirasi sejumlah miliarder lain untuk aktif beramal. Bill Gates menyebutnya sebagai contoh utama dari “Giving While Living” dan menjadi salah satu inspirasi di balik peluncuran The Giving Pledge bersama Warren Buffett. Nama-nama seperti Mark Zuckerberg dan lainnya juga ikut dikenal dalam gerakan filantropi yang lebih terbuka.

Bagi Feeney, menjadi kaya bukan soal mempertahankan sebanyak mungkin harta. Kekayaan justru bisa menjadi alat untuk meninggalkan dampak yang lebih besar sebelum kehidupan berakhir. Ia meninggal dunia pada 9 Oktober 2023 di San Francisco dalam usia 92 tahun, setelah berhasil mewujudkan misinya menghabiskan hampir seluruh hartanya untuk kebaikan.

Chuck Feeney membuktikan bahwa kekayaan dapat digunakan sepenuhnya untuk menciptakan perubahan nyata. Dengan prinsip “Giving While Living”, ia menyalurkan lebih dari US$8 miliar secara diam-diam selama puluhan tahun, lalu menutup yayasannya setelah misi selesai. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang kaya untuk berbagi saat masih hidup.

Image Source: GBHI

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi