Crazy Rich Zaman Kolonial Punya Harta Rp10 Triliun dari Jualan Es Batu


Surakarta, 6 November 2026 - Di era kolonial Hindia Belanda, ketika sebagian besar pribumi hidup dalam keterbatasan, muncul sosok pengusaha Jawa yang mampu menumpuk kekayaan fantastis. Namanya Tasripin. Ia diperkirakan lahir pada 1834 di wilayah sekitar Semarang atau Karanganyar, dan meninggal pada 9 Agustus 1919 dalam usia 85 tahun. Saat wafat, harta kekayaannya dilaporkan mencapai 45 juta gulden. Jika dihitung berdasarkan daya beli beras saat itu (sekitar 6 sen per liter), nilai tersebut setara hampir Rp10 triliun pada masa kini.
Tasripin membangun kekayaannya melalui tiga pilar usaha utama yang saling menopang. Yang paling menonjol adalah bisnis kulit hewan. Ia dikenal sebagai juragan kulit ternama di Semarang. Tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo bahkan menyebutnya sebagai pengusaha kulit yang sukses. Kulit sapi, kerbau, dan domba diolah menjadi bahan tas, sepatu, hingga wayang kulit. Beberapa catatan menyebut produk kulitnya berkualitas tinggi dan sempat diekspor. Kampung Kulitan di Semarang hingga kini masih dikaitkan dengan jejak usahanya.
Untuk mendukung bisnis kulit, Tasripin memiliki rumah potong hewan di Karang Bidara dan Kampung Beduk. Dengan menguasai rantai pasok dari penyembelihan hingga pengolahan, ia memastikan pasokan bahan baku tetap stabil dan menguntungkan.
Pilar ketiga yang sering disebut sebagai sumber kekayaan besar adalah bisnis es batu. Pada masa itu, kulkas belum umum dimiliki masyarakat. Es menjadi barang mewah yang sangat dibutuhkan untuk pengawetan makanan dan minuman di iklim tropis. Tasripin mendirikan pabrik es di Ungaran (disebutkan dalam De Locomotief edisi 25 Juli 1902) dan kemudian pabrik yang lebih besar di kawasan Petelan, Semarang (1910). Salah satu pabriknya bahkan disebut sebagai yang terbesar di daerah tersebut. Anaknya, Amat Tasan, juga tercatat mengelola pabrik es di Karreweg (kini Jalan Cipto Mangunkusumo) yang menghasilkan ratusan pon es per hari.
Selain ketiga usaha inti, Tasripin memperluas bisnis ke kopra, kapas, dan properti. Ia membeli banyak tanah dan bangunan dari orang Belanda, sehingga memiliki rumah dan lahan di berbagai titik Semarang, termasuk Jeruk Kingkit, Kampung Kulitan, Pederesan, Wot Prau, dan Gendingan. Sebagian tanahnya digunakan untuk tempat tinggal pekerja. Ia bahkan disebut memiliki kapal untuk keperluan perdagangan.
Pendapatan bulanan Tasripin diperkirakan mencapai 30.000–40.000 gulden. Angka itu memungkinkannya mengumpulkan rumah, tanah, emas, dan surat berharga dalam jumlah besar. Saat meninggal, kabar kekayaannya menjadi sorotan media kolonial seperti De Nieuwe Vorstenlanden dan Algemeen Handelsblad.
Setelah kematiannya, bisnis diteruskan keluarga melalui badan usaha yang dikenal sebagai Tasripin Concern atau Tasriepien Concern. Jejak perusahaan ini masih disebut dalam surat kabar hingga 1948. Namun, seiring waktu, warisan besar itu semakin sulit ditelusuri secara utuh.
Kisah Tasripin menunjukkan bahwa pada masa kolonial pun, pengusaha pribumi mampu membangun konglomerasi melalui pemahaman pasar, diversifikasi usaha, dan penguasaan rantai pasok. Dari kulit hewan, rumah potong, hingga es batu yang saat itu masih langka, ia berhasil menempatkan namanya sebagai salah satu orang terkaya di Hindia Belanda—seorang crazy rich pribumi yang kekayaannya menyaingi banyak pengusaha Eropa dan Tionghoa pada zamannya.
Image Source: RRI
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi