CZ Ingatkan Generasi Muda: Kuasai AI atau Siap Dipecat, Jack Dorsey Contoh Nyata PHK 40% Karyawan

3/9/20261 min baca

person in gray sweater holding Surface devices
person in gray sweater holding Surface devices

Surakarta, 9 Maret 2026 – Pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), kembali memberikan peringatan keras kepada para pekerja muda. Melalui unggahan di akun X-nya pada Senin (2 Maret 2026), CZ menegaskan bahwa siapa pun yang tidak segera menguasai kecerdasan buatan (AI) berisiko kehilangan pekerjaan. “Realita: belajarlah menggunakan AI secara maksimal, atau anda akan dipecat,” tulis CZ.

Pernyataan ini bukan sekadar nasihat biasa. CZ melihat AI bukan lagi alat pendukung, melainkan pengganti tenaga kerja di banyak sektor. Ia menekankan bahwa perusahaan-perusahaan kini lebih memilih pekerja yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas daripada yang hanya mengandalkan cara kerja konvensional.

Contoh nyata yang sedang terjadi adalah perusahaan pembayaran Blocks, milik eks-CEO Twitter Jack Dorsey. Blocks baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 4.000 karyawan, atau sekitar 40% dari total tenaga kerja. Keputusan ini diambil untuk mempercepat transisi ke teknologi AI dalam operasional perusahaan. Dorsey menyatakan bahwa Blocks dalam kondisi keuangan yang sangat kuat, namun peralihan ke AI dianggap mutlak diperlukan untuk bertahan di era digital.

Menurut laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report 2026, hingga tahun 2030 diperkirakan 85 juta pekerjaan akan hilang karena otomatisasi AI, sementara 97 juta pekerjaan baru akan muncul — tetapi hanya bagi mereka yang menguasai teknologi ini. McKinsey Global Institute juga memprediksi bahwa hingga 45% aktivitas kerja saat ini bisa diotomatisasi dengan AI pada 2035, terutama di bidang administrasi, analisis data, customer service, dan bahkan coding tingkat menengah.

CZ sendiri dikenal sebagai salah satu pengusaha teknologi paling visioner. Setelah menyerahkan kursi CEO Binance, ia kini aktif berbicara tentang masa depan teknologi, termasuk bagaimana AI dan kripto akan saling melengkapi. Peringatannya ini sekaligus menjadi pengingat bagi pekerja di Indonesia, di mana tingkat adopsi AI di perusahaan-perusahaan masih relatif rendah dibandingkan negara-negara maju.

Di tengah maraknya PHK massal akibat AI, para ahli menyarankan agar generasi muda segera mengembangkan kemampuan seperti prompt engineering, data analysis berbasis AI, dan pemahaman etika teknologi. Mereka yang mampu menggabungkan keterampilan manusia dengan kekuatan AI justru akan menjadi aset paling berharga di masa depan.