Dampak Bisnis Penghapusan GoTo dari Indeks MSCI


Surakarta, 15 Agustus 2026 - Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan menghapus PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari indeks MSCI Indonesia pada akhir Agustus 2026. Keputusan ini menjadi tekanan baru bagi pasar saham Indonesia, khususnya bagi saham-saham teknologi yang selama ini menjadi andalan investor asing.
Penghapusan tersebut terjadi ketika kapitalisasi pasar GoTo menyusut signifikan. Dari sekitar US$29 miliar beberapa tahun lalu, nilainya kini berada di kisaran US$3,2 miliar. Saham GOTO juga bertahan di level Rp50 sejak pertengahan Mei 2026, yang merupakan batas minimum perdagangan di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Alasan Teknis dari MSCI
MSCI menyatakan bahwa penghapusan dilakukan karena potensi masalah replikasi indeks akibat likuiditas yang sangat rendah. Saham yang terus diperdagangkan di harga minimum membuat investor institusi kesulitan untuk membeli atau menjual dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga secara signifikan.
Kondisi ini sudah diantisipasi sejak akhir Mei, ketika MSCI membekukan perubahan terkait GoTo di indeksnya. Keputusan final dalam review Agustus 2026 kemudian mengonfirmasi penghapusan tersebut, yang akan efektif setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Dampak bagi Investor dan Pasar
Penghapusan dari indeks MSCI biasanya mendorong investor yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan—terutama dana pasif dan institusi asing—untuk menyesuaikan portofolionya. Sejumlah analis memperkirakan potensi dana yang keluar dari saham GOTO bisa mencapai sekitar Rp1 triliun.
Bagi pasar saham Indonesia secara keseluruhan, keputusan ini menambah tekanan di tengah kondisi yang sudah cukup volatile. Pada hari pengumuman, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan akibat aksi jual terkait rebalancing indeks.
Bukan Hanya MSCI
Sebelumnya, FTSE Russell juga mengeluarkan GoTo dari indeks globalnya pada Juni 2026. Keputusan itu terjadi setelah saham GoTo berpindah ke papan pengembangan BEI, yang tidak memenuhi kriteria indeks FTSE Russell. Dengan demikian, GoTo kini kehilangan akses ke dua indeks global utama yang selama ini menjadi acuan investor asing.
Respons GoTo
GoTo menilai keputusan MSCI bersifat teknis dan tidak mencerminkan kinerja bisnis perusahaan. “Keputusan ini teknis. Hal ini mengikuti saham kami yang berada di harga lantai Rp50, di mana volume perdagangan rendah—bukan akibat kinerja bisnis,” kata perusahaan dalam tanggapannya.
Ke depan, GoTo menyatakan akan terus berdialog dengan MSCI sembari memantau perkembangan perdagangan sahamnya. Perusahaan berharap kondisi likuiditas dapat membaik sehingga memungkinkan pertimbangan ulang di masa mendatang.
Pelajaran bagi Emiten
Bagi pelaku usaha dan emiten lain, kasus GoTo memberikan pelajaran penting. Kapitalisasi pasar dan likuiditas bukan sekadar indikator pasar, tetapi turut menentukan akses perusahaan terhadap investor institusi, terutama yang berbasis indeks. Saham yang terus berada di harga minimum dalam jangka panjang berisiko kehilangan status di indeks global, yang pada akhirnya memengaruhi aliran dana asing.
Kesimpulan Penghapusan GoTo dari indeks MSCI menandai babak baru bagi salah satu perusahaan teknologi terbesar Indonesia di pasar modal. Meskipun bersifat teknis, dampaknya terhadap likuiditas dan persepsi investor tidak bisa diabaikan. Bagi GoTo, tantangan ke depan adalah memperbaiki likuiditas saham sambil terus fokus pada kinerja operasional. Bagi pasar secara luas, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa likuiditas dan valuasi yang sehat tetap menjadi kunci untuk tetap relevan di mata investor global.
Image Source: CNBC Indonesia
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi