Dari Petani Kakao Jadi Produsen Cokelat, Desa di Gunungkidul Tembus Pasar Dunia

11/7/20262 min baca

Dari Petani Kakao Jadi Produsen Cokelat, Desa di Gunungkidul Tembus Pasar Dunia
Dari Petani Kakao Jadi Produsen Cokelat, Desa di Gunungkidul Tembus Pasar Dunia

Surakarta, 7 November 2026 - Desa Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini dikenal sebagai salah satu Desa Devisa berkat komoditas kakao. Di balik transformasi itu ada Ahmad Nasrodin bersama warga yang memilih tidak hanya menjual biji kakao mentah, melainkan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.

Lahan kakao di desa ini tidak terlalu luas, sekitar 10,2 hingga 10,5 hektare dengan 5.000–5.325 pohon yang dikelola sekitar 96 warga. Produksi tahunan mencapai 10–20 ton. Sebelumnya, petani hanya menjual biji kakao kering dengan harga sangat rendah, sekitar Rp2.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Kondisi itu membuat usaha tani kakao kurang menarik.

Perubahan dimulai ketika warga, termasuk melalui Omah Kakao Doga dan Koperasi Amanah Doga Sejahtera, belajar mengolah kakao dengan benar. Proses fermentasi yang sebelumnya dilakukan kurang optimal diperbaiki. Setelah mendapat pendampingan, fermentasi hanya membutuhkan sekitar lima hari. Hasilnya, kualitas biji meningkat signifikan. Harga jual kakao fermentasi naik menjadi Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Selain biji fermentasi, warga juga memproduksi bubuk cokelat dan lemak cokelat. Dari tiga kilogram biji kakao bisa dihasilkan satu kilogram bubuk yang dijual hingga Rp250.000. Lemak cokelat mencapai sekitar Rp175.000 per kilogram. Produk olahan lain seperti ampyang cokelat, brownies, dan berbagai kudapan juga dikembangkan untuk pasar lokal.

Kualitas kakao Nglanggeran menarik perhatian pembeli asing. Salah satunya Vincent, pengusaha cokelat asal Swiss yang memproduksi merek Monnier. Ia rutin membeli minimal 10 kilogram setiap minggu. Yang membanggakan, pada produk akhir tetap dicantumkan asal-usul “Gunung Kidul”. Ekspor dilakukan secara tidak langsung melalui pihak ketiga, namun sudah membuka jalan ke pasar internasional.

Pada 19 Mei 2023, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) resmi menetapkan Nglanggeran sebagai Desa Devisa Kakao Gunungkidul. Program ini mencakup pelatihan fermentasi, prosedur ekspor, pendampingan sertifikasi, hingga akses pasar. LPEI juga mendatangkan ahli dari Desa Devisa lain, seperti di Jembrana, Bali. Kepala Departemen Pengembangan Komoditas dan Industri LPEI, Nilla Meiditha, berharap pendampingan tersebut memperkuat merek Kakao Gunungkidul agar semakin dikenal di pasar dunia.

Selain Omah Kakao Doga yang fokus pada bahan baku dan ekspor, di desa yang sama juga berkembang Griya Cokelat Nglanggeran yang lebih menargetkan wisata edukasi dan pasar lokal. Kombinasi pertanian, pengolahan, dan wisata membuat desa yang dulu tergolong tertinggal kini menjadi contoh hilirisasi komoditas lokal.

Kisah Nglanggeran menunjukkan bahwa petani kecil pun mampu naik kelas jika mendapat pendampingan tepat, berani berinovasi, dan menjaga kualitas. Dari sekadar menjual biji mentah, warga kini menghasilkan produk yang tembus hingga Swiss. Perjalanan ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengolah potensi lokal menjadi sumber kesejahteraan dan devisa negara.

Image Source: Kompas

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi