Dari "Tim Sirkus", Begini Cara BCA Jadi Bank Swasta Terbesar
Surakarta, 17 Agustus 2026 - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dikenal sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, bahkan sering disebut bank swasta terbesar nasional. Namun, perjalanan menuju posisi tersebut ternyata tidak lepas dari peran dua sosok yang pernah disebut sebagai “tim sirkus”.
Istilah tersebut merujuk pada sejumlah profesional yang dipindahkan dari Indomobil (salah satu unit Grup Salim) ke BCA pada awal 1990-an. Dua nama yang paling sering disebut dalam kisah ini adalah Jahja Setiaatmadja dan Aswin Wirjadi, yang kemudian berperan penting dalam transformasi bisnis BCA.
Turun Jabatan demi Peluang Lebih Besar
Menariknya, keduanya tidak langsung mendapatkan posisi tinggi ketika pindah ke BCA. Jahja Setiaatmadja, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan Indomobil, justru harus turun pangkat menjadi Wakil Kepala Divisi di BCA. Aswin Wirjadi juga mengalami perjalanan serupa.
Jahja pernah mengungkapkan bahwa mereka tetap tertarik menerima tawaran tersebut karena memiliki peluang mendapatkan bonus yang lebih besar. Keputusan “turun jabatan” ini menjadi titik awal perjalanan panjang yang kelak membawa mereka ke puncak kepemimpinan BCA. Jahja kemudian naik secara bertahap hingga menjadi Presiden Direktur BCA sejak 2011 (kini Presiden Komisaris), sementara Aswin berperan penting sebagai Deputy President Director pada periode 2002–2007.
Keberanian Mendorong Teknologi
Perubahan besar kemudian terjadi ketika BCA mulai mendorong penggunaan teknologi dalam layanan perbankan. Salah satunya melalui pengembangan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan kartu debit Paspor BCA.
Langkah tersebut sempat mendapat penolakan karena dianggap dapat menggerus bisnis perusahaan—terutama dari sisi transaksi di cabang. Namun, Aswin Wirjadi disebut berhasil meyakinkan berbagai pihak bahwa teknologi justru dapat membuat layanan bank lebih mudah diakses nasabah dan meningkatkan efisiensi jangka panjang.
Perubahan itu akhirnya ikut menggeser cara masyarakat menggunakan rekening. Tabungan yang sebelumnya identik dengan tempat menyimpan uang mulai berkembang menjadi fasilitas untuk melakukan berbagai transaksi sehari-hari.
Investasi Teknologi yang Konsisten
Tidak berhenti di ATM dan kartu debit, investasi teknologi terus didorong meski membutuhkan biaya besar. Strategi tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi transformasi digital BCA. Pada 2018, sekitar 97% transaksi nasabah sudah dilakukan melalui fasilitas digital perbankan, sementara hanya sekitar 3% yang masih melalui teller di kantor cabang.
Keberhasilan ini tidak terjadi dalam semalam. BCA berhasil melewati krisis 1998, proses rekapitalisasi, pergantian kepemilikan dari Grup Salim ke pemerintah, lalu ke Grup Djarum, hingga akhirnya menjadi bank yang sangat kuat di pasar domestik.
Pelajaran dari Transformasi BCA
Kisah “tim sirkus” menunjukkan bahwa transformasi bisnis tidak selalu dimulai dari modal besar atau posisi strategis sejak awal. Dalam kasus BCA, keberanian mengubah cara kerja, mengadopsi teknologi di saat yang tepat, serta kema
mpuan meyakinkan organisasi justru menjadi bagian penting dari perjalanan menuju posisi sebagai bank swasta terbesar nasional.
Keberhasilan BCA juga membuktikan bahwa investasi jangka panjang pada teknologi dan fokus pada kenyamanan nasabah dapat menghasilkan keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi. Hingga kini, BCA tetap menjadi salah satu bank dengan kinerja paling solid dan basis nasabah yang sangat loyal di Indonesia.
Dari profesional yang rela turun jabatan hingga menjadi arsitek transformasi digital, perjalanan Jahja Setiaatmadja, Aswin Wirjadi, dan “tim sirkus” menjadi salah satu kisah inspiratif di industri perbankan Indonesia. Keberanian mengambil risiko, fokus pada teknologi, dan konsistensi membangun fondasi digital menjadikan BCA bukan hanya bank besar, tetapi juga bank yang relevan di era modern.
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi