Dari Tukang Cukur, Johny Andrean Bikin J.CO Jadi Raja Donat


Surakarta, 7 September 2026 - Sebelum J.CO muncul, pasar donat Indonesia sudah lebih dulu dikuasai pemain besar. Dunkin’ Donuts bahkan menjadi salah satu nama paling populer sejak membuka gerai di Jakarta pada 1985. Posisinya sulit digoyang selama bertahun-tahun. Berbagai merek lokal bermunculan, tetapi belum ada yang benar-benar mampu mengusik dominasi pemain asal Amerika Serikat tersebut.
Situasi mulai berubah pada 2005. Seorang pengusaha yang sebelumnya dikenal lewat bisnis salon dan kecantikan, Johny Andrean (sering ditulis Johnny Andrean), justru masuk ke persaingan donat. Lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, Johny merantau ke Jakarta pada 1980-an dengan bekal keterampilan menata rambut dari sang ibu. Ia merintis salon kecil di Jakarta Utara yang kemudian berkembang menjadi jaringan Johnny Andrean Salon dengan ratusan gerai.
Dari Salon ke Roti, Lalu Donat
Sebelum menjadi pebisnis makanan, Johny lebih dahulu dikenal sebagai pemilik jaringan salon. Namun, ia sudah mulai mengenal bisnis kuliner setelah memegang lisensi BreadTalk dari Singapura. Pada 2003, ia membuka gerai BreadTalk pertama di Mal Kelapa Gading dengan konsep dapur terbuka (open kitchen) yang saat itu masih baru di Indonesia. Keberhasilan BreadTalk memberi pengalaman berharga dalam mengelola bisnis makanan modern.
Dari pengalaman tersebut, Johny melihat peluang baru di pasar donat. Ia sempat mempertimbangkan mengambil waralaba merek asing, tetapi merasa kurang puas dengan sejumlah aspek. Ia kemudian mempelajari bisnis donat secara mendalam—mulai dari proses pembuatan hingga cara menjualnya—saat melakukan perjalanan ke luar negeri, termasuk Amerika Serikat. Hasilnya, J.CO Donuts & Coffee lahir. Gerai pertama dibuka di Supermal Karawaci, Tangerang, pada 26 Juni/Juli 2005.
Konsep yang Membedakan
Sejak awal, Johny membawa konsep berbeda untuk menantang pemain yang sudah lebih dulu menguasai pasar. J.CO menawarkan donat dengan tekstur lembut, pilihan rasa beragam, serta berbagai topping dan isian. Nama-nama rasa pun dibuat kreatif dan mudah diingat, seperti Alcapone, Berry Spears, hingga rasa lokal. Konsep open kitchen yang diadopsi dari pengalaman BreadTalk memungkinkan pengunjung melihat langsung proses pembuatan hingga penyelesaian donat di dapur.
Strategi pemasarannya pun tidak dilakukan secara sembarangan. Gerai pertama sengaja dibuka di kawasan yang dikelilingi perkantoran, pusat pendidikan, dan target konsumen kelas menengah atas serta anak muda. Strategi tersebut berhasil menarik perhatian pasar. Dalam waktu relatif singkat, J.CO mulai berekspansi ke berbagai kota di Indonesia. Hanya dalam beberapa tahun, jumlah gerainya mencapai puluhan, lalu ratusan.
Menembus Pasar Luar Negeri
Ekspansi tidak berhenti di dalam negeri. J.CO kemudian menembus pasar luar negeri, mulai dari Malaysia, Singapura, Filipina, Hong Kong, hingga Arab Saudi. Hingga kini, J.CO telah memiliki ratusan gerai di beberapa negara Asia dan menjadi salah satu merek donat asal Indonesia yang paling dikenal di kawasan.
Kisah Johny Andrean menunjukkan bahwa pengalaman di satu industri dapat menjadi modal kuat untuk memasuki bidang baru. Dari salon kecantikan, ia membawa disiplin kualitas, pemahaman konsumen, dan keberanian berinovasi ke bisnis kuliner, hingga berhasil membangun merek yang menantang dominasi pemain global.
Johny Andrean memulai dari bisnis salon, lalu membawa BreadTalk ke Indonesia, sebelum mendirikan J.CO Donuts & Coffee pada 2005. Dengan konsep donat lembut, rasa beragam, dapur terbuka, dan strategi lokasi yang tepat, J.CO tumbuh cepat di dalam negeri dan merambah pasar Asia. Dari tukang cukur menjadi raja donat lokal yang mendunia.
Image Source: Tempo
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi