Dibayar untuk Menangis, Bisnis Pelayat Ini Bisa Cuan hingga Rp360 Juta


Surakarta, 3 November 2026 - Di China dan Taiwan, menangis saat pemakaman bukan hanya ekspresi duka keluarga. Bagi sebagian orang, menangis justru menjadi pekerjaan yang dibayar. Profesi pelayat profesional atau professional mourner sudah lama menjadi bagian dari tradisi pemakaman setempat. Ketika keluarga atau teman tidak bisa hadir dalam jumlah banyak, pelayat bayaran dipekerjakan agar suasana duka tetap ramai dan menghormati mendiang.
Tradisi ini berakar pada budaya Konfusianisme yang menekankan xiao atau bakti kepada orang tua. Pemakaman yang meriah dan penuh air mata diyakini membantu arwah mendiang menyeberang dengan lancar ke alam baka. Suasana sepi dianggap kurang hormat. Karena itu, sejak ratusan tahun lalu, keluarga yang mampu sering menyewa orang untuk menangis, meratap, dan menghidupkan suasana. Profesi ini sempat ditekan selama Revolusi Kebudayaan di China, tetapi kemudian bangkit kembali, terutama di daerah pedesaan dan kota-kota seperti Chongqing.
Salah satu tokoh terkenal adalah Liu Chun-Lin (juga dikenal sebagai Liu Jun-Lin) dari Taiwan. Setelah mengalami kesulitan ekonomi, ia mulai bekerja sebagai pelayat profesional sejak usia muda, bahkan dilatih sejak remaja oleh keluarga yang sudah lama bergelut di bidang ini. Liu bertugas menangis keras, mendoakan, menyanyikan lagu duka, hingga berpura-pura memohon agar mendiang kembali hidup. Ia dan timnya, yang disebut Filial Daughters Band, juga menampilkan tarian dan pertunjukan. Untuk satu acara, Liu pernah dibayar sekitar US$600 atau setara Rp9 juta. Kesuksesannya mendorongnya membuka pelatihan bagi calon pelayat baru.
Di China, Dingding Mao (nama panggung Hu Xinglian) dari Chongqing juga menjalani profesi serupa. Setelah kehilangan pekerjaan, ia beralih menjadi pelayat profesional. Selain menangis dan meratap, Mao menawarkan layanan tambahan seperti menari di samping peti jenazah untuk menghibur keluarga yang berduka. Ia bahkan menggabungkan elemen teater, lagu, dan sketsa. Layanan ekstra ini membuat bayarannya bisa lebih tinggi. Mao terkenal karena penampilannya yang dramatis dan telah menghadiri ratusan pemakaman.
Bisnis ini tidak hanya dijalankan individu. Banyak penyelenggara acara atau agensi yang mengirimkan sekelompok pelayat ke satu pemakaman. Mereka mengatur jadwal, kostum, dan skenario ratapan. Menurut berbagai laporan, keuntungan satu penyelenggara dalam satu acara besar bisa mencapai US$15.000–US$20.000 atau sekitar Rp270 juta–Rp361 juta, tergantung skala dan jumlah pelayat yang dilibatkan.
Meski kontroversial karena dianggap mengkomersialisasi kesedihan, para pelayat profesional memandang pekerjaan mereka sebagai bentuk penghormatan sekaligus sumber penghidupan. Bagi keluarga yang sibuk atau tinggal jauh, jasa ini menjadi solusi praktis. Namun, seiring modernisasi dan perubahan selera masyarakat, tradisi ini mulai meredup di kota besar. Banyak yang beralih ke pemakaman yang lebih sederhana. Meski begitu, di sejumlah wilayah, permintaan terhadap pelayat profesional masih ada, terutama untuk menjaga kesan “penuh” dan hormat terhadap mendiang.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi lama bisa beradaptasi menjadi peluang ekonomi. Menangis yang biasanya dianggap murni emosional, dalam konteks tertentu, justru menjadi keterampilan yang dihargai secara finansial. Bagi pelaku bisnis, kisah ini mengingatkan bahwa kebutuhan manusia—termasuk kebutuhan emosional dan kultural—bisa membuka ceruk usaha yang tak terduga.
Image Source: CNBC
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi