Dikira Brand Luar, Bisnis Toko Kue The Harvest Ternyata Dibangun di Indonesia

9/7/20262 min baca

Dikira Brand Luar, Bisnis Toko Kue Ini Ternyata Dibangun di Indonesia
Dikira Brand Luar, Bisnis Toko Kue Ini Ternyata Dibangun di Indonesia

Surakarta, 7 September 2026 - Konten postinganSetiap ada ulang tahun atau perayaan, kue sering menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dari sekian banyak pilihan, nama The Harvest menjadi salah satu yang cukup familiar bagi konsumen Indonesia. Tampilannya elegan, pilihan kuenya beragam, dan mengusung konsep ala Eropa. Citra tersebut membuat tidak sedikit orang mengira The Harvest merupakan merek yang berasal dari luar negeri.

Padahal, anggapan itu keliru. The Harvest justru lahir dan berkembang di Indonesia, meski didirikan oleh Lal de Silva, seorang chef pastry kelahiran Sri Lanka. Sebelum membangun bisnis sendiri, Silva menghabiskan waktu berkarier sebagai chef pastry di berbagai hotel bintang lima, termasuk Four Seasons. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal untuk membuka The Harvest pada 2004.

Awal yang Sederhana di Senopati

Gerai pertamanya berdiri di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Saat itu, bisnis ini dimulai dengan modal sekitar Rp450 juta dan hanya mempekerjakan 23 karyawan. Namun, sejak awal Silva tidak sekadar ingin menjual kue. Ia ingin memperlakukan setiap produknya sebagai sebuah karya seni dengan bahan berkualitas tinggi, banyak di antaranya diimpor, serta proses pengembangan yang serius.

Strategi tersebut kemudian dipadukan dengan konsep kue bergaya Eropa, khususnya patisserie Prancis. Desain gerai yang elegan, tampilan produk yang rapi dan menarik, kemasan inovatif, hingga kualitas layanan ikut dibangun untuk menciptakan pengalaman berbeda bagi konsumennya. Target awalnya adalah konsumen kelas menengah atas yang mencari alternatif di antara kue hotel bintang lima yang mahal dan toko kue biasa.

Pertumbuhan Cepat

Hasilnya, The Harvest mulai menarik perhatian. Gerainya pun perlahan bertambah di berbagai sudut Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Dalam waktu kurang dari lima tahun, jumlah karyawan yang awalnya hanya 23 orang telah meningkat menjadi sekitar 300 orang. Ekspansinya terus berlanjut ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk kota-kota sekunder.

Kini The Harvest telah memiliki puluhan hingga lebih dari 90 gerai (termasuk format Express) yang tersebar di banyak kota, dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, hingga Makassar dan Balikpapan. Perusahaan juga mengembangkan standar produksi yang ketat agar kualitas tetap konsisten di seluruh jaringan.

Pelajaran Membangun Citra Merek

Kesuksesan The Harvest menunjukkan bahwa membangun citra merek menjadi bagian penting dalam bisnis. Produk yang kuat bisa semakin bernilai ketika kualitas, desain, dan pengalaman pelanggan berjalan searah. Meski sering dikira merek asing karena penampilannya yang premium dan bergaya Eropa, The Harvest adalah contoh bisnis yang dibangun di Indonesia dengan standar tinggi dan berhasil tumbuh menjadi salah satu jaringan toko kue premium terbesar di tanah air.

The Harvest didirikan di Indonesia pada 2004 oleh chef pastry Sri Lanka Lal de Silva di Senopati, Jakarta, dengan modal Rp450 juta dan 23 karyawan. Dengan fokus pada kualitas bahan, presentasi artistik, dan konsep Eropa, merek ini tumbuh pesat menjadi jaringan toko kue premium yang dikenal luas, meski sering disangka brand luar negeri.

Image Source: Greater Group

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi