Dolar AS Terancam di Tengah Investigasi The Fed: Emas Siap Gantikan sebagai Aset Cadangan
Surakarta, 21 Januari 2026 - Dolar AS semakin berada di ujung tanduk akibat ancaman investigasi kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell oleh Departemen Kehakiman (DoJ) AS, yang memicu kekhawatiran luas tentang independensi bank sentral dan stabilitas mata uang global. Analis Fidelity Investments, George Noble, memproyeksikan bahwa ini bisa menjadi "awal dari akhir dominasi dolar", karena investigasi tersebut dianggap sebagai tekanan politik yang bisa memicu krisis keuangan global jika independensi The Fed terganggu. "Anda mungkin menyaksikan awal dari akhir untuk dominasi dolar, yang disebabkan investigasi The Fed oleh Presiden. Fed telah beroperasi sejak 1913, artinya 111 tahun, dan telah melalui badai ekonomi besar. Tidak ada Presiden yang pernah menggunakan DoJ untuk mengancam Ketua Fed yang sedang menjabat secara kriminal," tulis Noble di akun X-nya pada awal Januari 2026. Noble menyoroti reaksi pasar instan, di mana harga emas mencapai all-time high US$4.600 per ons untuk pertama kalinya, menandakan bahwa investor tidak lagi memilih mata uang fiat seperti dolar sebagai lindung nilai, sementara kepercayaan terhadap The Fed menurun drastis akibat investigasi ini.
Investigasi ini berawal dari subpoena grand jury yang dikirim DoJ pada 9 Januari 2026, meminta dokumen terkait testimony Powell di Kongres tentang renovasi gedung Fed senilai US$2,5 miliar, yang dikritik Trump sebagai pemborosan. Powell membalas melalui video statement pada 11 Januari 2026, menyebutnya sebagai "pretext" untuk memaksa penurunan suku bunga sesuai keinginan Trump, yang telah lama mengkritik Powell karena kebijakan moneter yang dianggap terlalu ketat. Konflik ini eskalasi dari feud lama, di mana Trump berulang kali mengancam pemecatan Powell sejak 2025, dan kini menggunakan DoJ untuk tekanan, seperti yang dilaporkan Reuters pada 12 Januari 2026. Mantan chair Fed seperti Janet Yellen, Ben Bernanke, dan Alan Greenspan mengeluarkan statement bersama dukungan Powell pada 12 Januari 2026, menyebut investigasi ini sebagai ancaman terhadap independensi Fed yang bisa memicu volatilitas pasar. Senator Republik seperti Mitt Romney dan Kevin Cramer juga mengkritik, menyebutnya sebagai "coercion" yang mengancam stabilitas ekonomi.
Peter Schiff, ekonom gold bug, memperkuat prediksi ini dengan memperingatkan bahwa investigasi ini mempercepat "dollar collapse crisis", di mana dolar akan digantikan emas sebagai aset cadangan utama bank sentral pada 2026. "King dollar’s reign is coming to an end. Gold will take the throne... Prepare for a historic economic collapse," tulis Schiff di X pada Desember 2025. Schiff, yang akurat memprediksi krisis 2008, menambahkan bahwa The Fed kembali ke kebijakan memicu inflasi melalui monetisasi utang, yang akan memaksa emas naik ke $10.000 dan silver $200 pada 2026, seperti yang ia katakan dalam wawancara Kitco News. Prediksi Schiff didukung data: Bank sentral AS buang cadangan dolar US$113 miliar sejak September 2025, dan emas kini lebih besar dari Treasury AS sebagai cadangan sejak 1996. Dampaknya, indeks dolar turun 9,93% pada 2025, sementara emas naik ke $4.600 per ons, sinyal erosi kepercayaan global.
Dampak bagi dunia sangat luas, dengan Erixon memperingatkan bahwa krisis utang AS bisa memicu "debt death spiral" pada 2026, mempengaruhi negara seperti Indonesia melalui pelemahan rupiah dan inflasi impor. Meski Trump deny keterlibatan, ini dilihat sebagai bagian dari agenda politik yang bisa mengganggu stabilitas global.
