Dua Aliansi Utama yang Membacking Iran dan Israel di Tengah Eskalasi Timur Tengah

3/2/20262 min baca

blue and white flag on pole
blue and white flag on pole

Surakarta, 2 Februari 2026 - Konflik antara Iran dan Israel semakin memicu kekhawatiran akan perang yang lebih luas di Timur Tengah, dengan pakar geopolitik seperti Ray Dalio memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa menjadi pemicu perang dunia ketiga jika tidak terkendali. Meskipun belum ada deklarasi resmi kubu perang, pola aliansi sudah mulai terbentuk, dengan Iran dan Israel sebagai pemimpin utama di masing-masing poros. Di satu sisi, Iran didukung oleh jaringan sekutu regional dan kekuatan besar seperti Rusia dan China, sementara Israel mendapatkan backing kuat dari AS dan negara-negara Barat. Situasi ini semakin panas setelah serangan gabungan AS-Israel ke Tehran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, diikuti serangan balasan Iran ke Israel dan basis AS di Teluk, seperti yang dilaporkan BBC News pada 1 Maret 2026. Tidak hanya melibatkan dua negara, konflik ini telah merembet ke negara tetangga seperti Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), dengan serangan rudal dan drone yang menyebabkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur.

Poros Iran, yang sering disebut sebagai "Axis of Resistance" menurut laporan Council on Foreign Relations (CFR) pada 2025, terdiri dari kelompok militan yang didukung Teheran seperti Hezbollah di Lebanon, Houthis di Yaman, dan milisi Syiah di Irak dan Suriah. Kelompok-kelompok ini telah aktif dalam konflik proxy melawan Israel sejak 1985, seperti yang dijelaskan Wikipedia dalam entri "Iran-Israel proxy conflict". Rusia dan China menjadi pendukung utama di belakang Iran, dengan Rusia menyediakan senjata seperti drone Shahed dan rudal balistik, sementara China memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi melalui inisiatif Belt and Road. Setelah serangan ke Khamenei, Rusia mengutuk tindakan AS-Israel sebagai "agresi barbar" dan menjanjikan bantuan militer lanjutan, seperti yang dilaporkan The Guardian pada 1 Maret 2026, sementara China meminta penghormatan terhadap kedaulatan Iran di sidang PBB pada hari yang sama. Dukungan ini belum sepenuhnya berarti aliansi militer formal, tapi telah memperlihatkan posisi mereka dalam menentang dominasi AS di kawasan.

Di sisi lain, poros sekutu Israel dipimpin oleh AS, yang telah memberikan bantuan militer senilai miliaran dolar sejak 1948, termasuk sistem pertahanan Iron Dome dan intelijen canggih. Menurut laporan Atlantic Council pada Februari 2026, aliansi ini mencakup negara Barat seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, yang telah menyatakan solidaritas dengan Israel pasca-serangan Iran. Negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Kuwait juga cenderung mendukung Israel secara diam-diam melalui Abraham Accords 2020, meskipun secara resmi netral untuk menghindari konflik langsung dengan Iran. Jordan, sebagai sekutu dekat AS, telah membantu dalam pertahanan udara Israel selama serangan Iran terbaru, seperti yang dilaporkan NBC News pada 1 Maret 2026. Dukungan ini semakin kuat setelah kematian Khamenei, dengan Trump menyatakan bahwa "Iran telah melemah" dan siap meningkatkan bantuan ke Israel.

Eskalasi ini telah mempengaruhi ekonomi global, dengan harga minyak naik karena penutupan Selat Hormuz oleh Iran, dan pemadaman penerbangan massal di kawasan. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan pada 2 Maret 2026, dan Presiden Prabowo siap fasilitasi mediasi jika dibutuhkan. Namun, pakar seperti Yon Machmudi dari UI memperingatkan bahwa konflik ini bisa meluas jika aliansi masing-masing terlibat penuh, menurut Kompas pada 1 Maret 2026.

Dengan dua aliansi yang semakin terbentuk, dunia menunggu apakah diplomasi tetap mencegah perang total atau justru menjadi katalisator konflik lebih besar.