Dulu Cuma Punya Modal Rp30 Juta, Begini Awal Bisnis Jokowi

9/4/20262 min baca

Dulu Cuma Punya Modal Rp30 Juta, Begini Awal Bisnis Jokowi
Dulu Cuma Punya Modal Rp30 Juta, Begini Awal Bisnis Jokowi

Surakarta, 4 September 2026 - Sebelum dikenal sebagai Presiden Indonesia, Joko Widodo lebih dulu membangun karier sebagai pengusaha mebel di Solo. Perjalanannya dimulai setelah meninggalkan pekerjaan di PT Kertas Kraft Aceh, BUMN kertas di mana ia pernah bertugas di kawasan hutan pinus di Aceh. Pada 1987, Jokowi pulang ke Solo dan mulai belajar bisnis kayu bersama kerabatnya di CV Roda Jati milik pamannya. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan, dari menggergaji hingga mengecat dan mengurus pemasaran, untuk memahami seluruh proses usaha mebel.

Setahun kemudian, pada 1988, Jokowi memberanikan diri mendirikan CV Rakabu—nama yang diambil dari nama anak pertamanya, Gibran Rakabuming—bermodalkan pinjaman bank sekitar Rp30 juta (sebagian sumber menyebutkan melibatkan jaminan aset keluarga). Bengkel kecil di kawasan Kadipiro, Solo, itu awalnya hanya memiliki beberapa karyawan dan mengandalkan pesanan furniture lokal.

Strategi Jemput Bola dan Cobaan Besar

Untuk mendapatkan pelanggan, Jokowi harus jemput bola. Ia mendatangi rumah-rumah yang sedang dibangun dan menawarkan produk mebelnya secara langsung. Bisnis mulai berkembang ketika Rakabu mendapat pesanan besar senilai Rp60 juta dari Jakarta sekitar 1990. Namun, setelah barang selesai dibuat dan dikirim, pemesan justru kabur tanpa membayar. Jokowi pun kehilangan modal dan bisnisnya sempat bangkrut. Seluruh operasional terhenti.

Sang ibu, Sudjiatmi Notomihardjo, kemudian membantu dengan tabungan pribadi serta pinjaman bank senilai Rp30 juta agar usaha tersebut bisa kembali berjalan. Dukungan tersebut menjadi titik balik penting. Setelah bangkit, Jokowi mengubah cara berbisnis. Ia mulai meminta uang muka sebelum produksi, sehingga kejadian serupa tidak kembali menggerus modal usahanya.

Modal Tambahan dan Pintu Ekspor

Rakabu kemudian mendapat tambahan modal Rp500 juta dari Perusahaan Gas Negara (PGN). Dari sini, bisnis mulai berkembang dan Jokowi berani membawa produk mebelnya ke pasar ekspor. Sejak 1991, ia rutin menawarkan produk ke jalur Solo–Jakarta–Singapura. Pesanan belasan kontainer pun mulai berdatangan. Pada periode 1994–1996, produksi meningkat signifikan. Sumber menyebutkan bisnisnya sempat mengelola sejumlah pabrik dengan ratusan karyawan.

Saat krisis moneter 1997–1998 menghantam Indonesia, banyak usaha lokal kesulitan. Namun, bisnis mebel Jokowi justru memperluas pasar hingga Australia, Amerika, Eropa, dan Asia. Pengalaman berhadapan langsung dengan pembeli luar negeri—termasuk seorang klien Prancis yang memberinya julukan “Jokowi”—memperkuat pemahaman bisnisnya.

Jauh sebelum perjalanan politiknya dimulai, bisnis mebel inilah yang menjadi fondasinya. Dari bengkel kecil bermodal terbatas, ia membangun usaha yang mampu menembus pasar global melalui kerja keras, pembelajaran dari kegagalan, dan keberanian menyesuaikan strategi.

Jokowi merintis CV Rakabu dengan modal sekitar Rp30 juta pada 1988. Setelah sempat bangkrut karena penipuan pesanan, ia bangkit dengan bantuan ibu, mengubah sistem pembayaran, mendapat modal tambahan, lalu menembus pasar ekspor. Pengalaman berbisnis mebel dari nol hingga mendunia menjadi fondasi penting sebelum ia terjun ke dunia politik.

Sumber gambar: gesuri

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi