Dulu Sering Dibully, Sudhamek Bangun Kerajaan Bisnis Garuda Food dari Kacang

9/1/20262 min baca

Dulu Sering Dibully, Sudhamek Bangun Kerajaan Bisnis Garuda Food dari Kacang
Dulu Sering Dibully, Sudhamek Bangun Kerajaan Bisnis Garuda Food dari Kacang

Surakarta, 1 September 2026 - Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto (Sudhamek AWS) tidak lahir dari perjalanan yang mudah. Sebagai anak bungsu dari 11 bersaudara, ia kerap diejek sebagai anak pungut oleh kakaknya dan dibully teman sekolah karena dianggap miskin serta orang kampung. Namanya yang unik bahkan sempat menjadi bahan ejekan hingga ia merasa tertekan di masa sekolah. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan dan bekerja.

Setelah lulus dari Universitas Kristen Satya Wacana, Sudhamek justru menghabiskan delapan tahun bekerja di Gudang Garam (1982–1990) hingga mencapai posisi asisten direktur. Karier itu memberinya pengalaman mengelola bisnis besar di bawah keluarga Wonowidjojo. Meski begitu, ayahnya, Darmo Putro, ingin Sudhamek pulang untuk mengembangkan bisnis keluarga.

Bergabung ke Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga tersebut, PT Tudung, awalnya bergerak di industri tepung tapioka sejak 1958. Pada 1987, perusahaan mulai beralih ke produksi kacang goreng. Sudhamek akhirnya bergabung pada 1994 dan langsung dipercaya sebagai CEO Garuda Food (saat itu PT Garuda Putra Putri Jaya). Dari sinilah ia mulai mengubah bisnis kacang keluarganya menjadi merek yang kuat dan dekat dengan konsumen.

Ia melakukan branding ulang melalui slogan ikonik “Ini Kacangku”, sekaligus memperluas produk dari kacang kulit ke kacang telur dan kacang atom. Strategi tersebut membantu Garuda menguasai sekitar 80% pasar kacang Indonesia. Bisnisnya bahkan terus tumbuh ketika krisis moneter 1998 menghantam—omzet perusahaan justru naik signifikan di tengah banyak perusahaan yang kesulitan.

Ekspansi ke Berbagai Produk

Setelah fondasi bisnis kacang semakin kuat, Sudhamek mulai memperluas Garuda Food ke pengembangan berbagai produk makanan serta minuman. Kini portofolio perusahaan mencakup biskuit (seperti Gery), pilus, pellet snack, confectionery, minuman susu, bubuk cokelat, keju, hingga salad dressing. Produk-produk tersebut menjadi andalan di warung hingga ritel modern di seluruh Indonesia.

Dari bisnis kacang milik keluarga, Garudafood akhirnya berkembang hingga melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018 dengan kode saham GOOD. Sudhamek kemudian beralih dari operasional dan menjabat sebagai Komisaris Utama Garuda Food Group dan Tudung Group.

Pelajaran dari Perjalanan Panjang

Kisahnya menjadi contoh bagaimana pengalaman kerja profesional, penguatan branding, dan ekspansi yang dilakukan setelah bisnis inti matang dapat mengubah usaha sederhana menjadi kerajaan bisnis. Perjalanan ini juga menunjukkan bahwa bisnis besar tidak selalu harus dimulai dari industri yang terlihat mewah. Kuncinya justru terletak pada kemampuan memperkuat produk inti, membangun merek yang kuat di benak konsumen, lalu menggunakan fondasi tersebut untuk berekspansi ke pasar baru.

Dari pengalaman dibully di masa kecil hingga membangun salah satu perusahaan FMCG terkemuka di Indonesia, Sudhamek membuktikan bahwa luka masa lalu dapat menjadi motivasi untuk terus maju dan menciptakan dampak yang lebih besar.

Sudhamek AWS mengubah bisnis kacang keluarga menjadi Garudafood yang mendominasi pasar dan berekspansi ke berbagai kategori makanan-minuman. Dengan pengalaman profesional, branding yang kuat, dan ekspansi bertahap, ia menunjukkan bahwa usaha sederhana pun bisa tumbuh menjadi kerajaan bisnis jika dikelola dengan visi jangka panjang.

Image Source: Instagram

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi