Ekonom AS Steve Hanke Sebut Kabinet Jumbo Prabowo Sinyal Buruk bagi Rupiah
Surakarta, 30 Juni 2026 - Ekonom senior Amerika Serikat, Steve Hanke, kembali menyuarakan pandangan kritisnya terhadap pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto. Menurut Hanke, pembentukan kabinet jumbo dengan 109 orang justru menjadi sinyal buruk bagi nilai tukar Rupiah dan kepercayaan investor asing.
“Presiden Indonesia Prabowo telah membentuk kabinet terbesar di dunia. Kabinet ini beranggotakan 109 orang. Hal ini menghasilkan sinyal yang membingungkan dan bertentangan dari pemerintahan Prabowo. Lebih banyak kebisingan daripada sinyal… Kabar buruk bagi rupiah,” tulis Hanke di akun X pribadinya pada Senin (29 Juni 2026).
Pernyataan ini muncul di tengah pelemahan Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.800-an per Dolar AS. Hanke menilai kabinet besar cenderung menimbulkan kebisingan kebijakan dan mengurangi kejelasan arah ekonomi, yang pada akhirnya membuat investor asing ragu-ragu.
Latar Belakang Kabinet Prabowo
Pemerintahan Prabowo memang dikenal dengan kabinet yang sangat besar. Dengan 109 anggota, kabinet ini disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Tujuannya adalah mengakomodasi berbagai koalisi politik untuk menjaga stabilitas pemerintahan. Namun, kritik seperti yang dilontarkan Hanke menyoroti risiko inefisiensi, tumpang tindih kewenangan, dan kesulitan dalam pengambilan keputusan cepat.
Beberapa analis ekonomi dalam negeri juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Kabinet besar berpotensi meningkatkan belanja negara untuk gaji dan operasional, sementara koordinasi antar kementerian bisa menjadi lebih rumit.
Komentar Hanke yang Lain
Steve Hanke bukan kali ini saja mengomentari ekonomi Indonesia. Sebelumnya, ia pernah mengungkap bahwa Rupiah berpotensi memiliki nilai setara Dolar AS jika rencananya bersama Presiden Soeharto pada masa krisis 1998 tidak dihalangi oleh IMF dan Presiden AS Bill Clinton. Hanke dikenal sebagai pendukung sistem mata uang yang kuat dan sering mengkritik kebijakan moneter longgar.
Respons dan Konteks Ekonomi Saat Ini
Pemerintah Indonesia belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan Hanke. Namun, juru bicara pemerintah menekankan bahwa kabinet besar adalah strategi untuk menjaga stabilitas politik dan mengakomodasi semua kekuatan pendukung agar program prioritas seperti hilirisasi, pembangunan infrastruktur, dan pemberantasan kemiskinan bisa berjalan lancar.
Saat ini, Rupiah memang menghadapi tekanan dari faktor global (penguatan Dolar AS) dan domestik (defisit transaksi berjalan serta outflow modal). Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan untuk menstabilkan mata uang, sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Rupiah akan menguat ke level Rp15.000 per Dolar AS dalam waktu dekat.
Implikasi bagi Investor
Pernyataan ekonom seperti Hanke sering memengaruhi sentimen pasar. Investor asing cenderung sensitif terhadap isu tata kelola pemerintahan. Jika kabinet jumbo dianggap menimbulkan ketidakpastian, inflow modal asing ke pasar obligasi dan saham Indonesia bisa melambat.
Di sisi lain, banyak ekonom lokal menilai bahwa kekuatan fundamental Indonesia (pertumbuhan ekonomi stabil, cadangan devisa memadai, dan komitmen hilirisasi) masih cukup kuat untuk menahan tekanan jangka pendek.
Kesimpulan
Pandangan Steve Hanke menambah daftar kekhawatiran terhadap stabilitas Rupiah di tengah pemerintahan baru. Meski demikian, pemerintah Prabowo memiliki waktu untuk membuktikan bahwa kabinet besar justru menjadi kekuatan untuk melaksanakan program-program ambisius. Yang terpenting adalah menjaga koordinasi, transparansi, dan konsistensi kebijakan agar kepercayaan investor kembali pulih.
Pasar akan terus memantau langkah konkret pemerintahan ke depan, terutama di bidang fiskal dan moneter.
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi