El Salvador Rugi US$292 Juta Usai Harga Bitcoin Anjlok, Tapi Tetap Beli 1 BTC per Hari

2/6/20262 min baca

a woman using a cell phone in front of a bitcoin machine
a woman using a cell phone in front of a bitcoin machine

Surakarta, 6 Februari 2026 - El Salvador, negara pertama di dunia yang mengadopsi Bitcoin (BTC) sebagai alat pembayaran sah sejak September 2021, kini mencatat kerugian unrealized hingga US$292 juta atau sekitar Rp4,7 triliun (berdasarkan kurs Rp16.200 per dolar AS pada awal Februari 2026) akibat anjloknya harga BTC dalam beberapa pekan terakhir. Menurut data Arkham Intelligence pada 6 Februari 2026, ketika BTC mencapai puncaknya di US$108.000 pada akhir 2025, holdings El Salvador bernilai sekitar US$792 juta dengan keuntungan signifikan. Namun, dengan harga BTC yang kini turun ke sekitar US$66.000, nilai aset kripto negara tersebut menyusut menjadi US$490 juta, mencerminkan volatilitas tinggi pasar kripto yang telah memukul strategi "Bitcoin Nation" Presiden Nayib Bukele.

Meskipun mengalami kerugian besar, pemerintah El Salvador tetap teguh pada kebijakannya untuk membeli 1 BTC setiap hari, seperti yang dikonfirmasi Bukele melalui posting di X pada 18 November 2025. Transaksi terbaru pada 6 Februari 2026 mencatat pembelian 1 BTC senilai US$66.110, membawa total holdings negara ini menjadi 7.554 BTC, menurut dashboard resmi Bitcoin Office El Salvador. Strategi "buy the dip" ini telah berlangsung sejak November 2022, dengan total pembelian mencapai lebih dari 5.000 BTC dalam periode tersebut, seperti yang dilaporkan CoinDesk pada Januari 2026. Bukele sering membagikan screenshot holdings untuk menunjukkan komitmen, meskipun IMF dalam laporan Maret 2025 memperingatkan bahwa kebijakan ini berisiko tinggi dan mendorong El Salvador untuk membatasi adopsi BTC sebagai syarat pinjaman US$1,4 miliar, yang akhirnya disetujui dengan syarat pengurangan eksposur kripto.

Kerugian ini bukan yang pertama; pada 2022-2023, holdings El Salvador sempat rugi hingga 50% nilai saat BTC crash pasca-FTX, seperti yang dianalisis The Economist pada Maret 2025. Namun, pada Mei 2025, saat BTC rally, negara ini sempat untung US$357 juta dengan holdings 6.246 BTC, menurut AOL Finance. Pada Januari 2026, tambahan 11 BTC dilakukan meski tekanan IMF, membawa total ke 7.547 BTC senilai US$635 juta saat BTC $84.000, seperti dilaporkan Decrypt. Bukele tetap optimis, sering tweet "We just bought the dip" untuk setiap pembelian, dan rencana Bitcoin City dengan geothermal mining terus berjalan meski adopsi BTC sebagai tender legal hanya 1.3% untuk remittance pada 2023, menurut El Pais.

Strategi ini telah memicu perdebatan global, dengan kritik dari IMF yang sebut eksperimen BTC El Salvador sebagai "failure" pada Maret 2025 karena kerugian US$45 juta dan lambatnya adopsi massal. Meski demikian, pada Oktober 2025, holdings naik ke 6.246 BTC dengan profit $443 juta saat BTC $120.000, menurut Phemex News. Di Indonesia, berita ini menjadi pelajaran tentang risiko kripto untuk kebijakan nasional, dengan Bappebti memantau volatilitas BTC yang bisa mempengaruhi investor lokal.

Dengan holdings 7.554 BTC, El Salvador tetap teguh pada visi "Bitcoin Nation," meski kerugian saat ini menekan anggaran negara di tengah krisis ekonomi global.