Elon Musk Prediksi Sekolah Kedokteran Akan Sia-sia dalam 3 Tahun: Robot AI Siap Gantikan Dokter

1/17/20262 min baca

Usai Mundur, Elon Musk Sebut Kebijakan Baru Trump sebagai Aib Memalukan
Usai Mundur, Elon Musk Sebut Kebijakan Baru Trump sebagai Aib Memalukan

Surakarta, 17 Januari 2026 - CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, kembali membuat kontroversi dengan pernyataannya bahwa sekolah kedokteran akan menjadi "sia-sia" dalam waktu dekat, karena kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan robot humanoid akan melampaui kemampuan dokter manusia. Pernyataan ini disampaikan Musk dalam episode podcast "Moonshots with Peter Diamandis" yang tayang pada 6 Januari 2026, di mana ia memprediksi bahwa robot seperti Optimus milik Tesla akan menjadi ahli bedah lebih baik daripada manusia dalam tiga tahun ke depan, dan pada skala besar, jumlah robot surgeon akan melebihi jumlah dokter di Bumi. "Sekolah kedokteran akan menjadi pointless. Ya, sia-sia. Kecuali jika Anda ingin, tapi saya pikir itu berlaku untuk bidang pendidikan apa pun," ujar Musk saat ditanya apakah orang masih perlu menjadi dokter. Ia menambahkan bahwa dalam waktu singkat, setiap orang akan memiliki akses ke layanan kesehatan yang lebih baik daripada yang diterima presiden AS saat ini, berkat skala produksi robot yang masif.

Prediksi Musk ini bukan yang pertama; ia sering menyatakan bahwa AI akan merevolusi berbagai sektor, termasuk kesehatan. Dalam podcast yang sama, Musk menjelaskan bahwa Optimus, robot humanoid Tesla yang sedang dikembangkan, akan mampu melakukan operasi bedah dengan presisi lebih tinggi, mengurangi kesalahan karena kelelahan, dan bisa diskalakan hingga miliaran unit pada 2030. "Akan ada lebih banyak robot surgeon hebat daripada semua surgeon di Bumi," katanya, menekankan bahwa ini akan membuat biaya medis mendekati nol dan meningkatkan akses global. Pernyataan ini langsung viral di media sosial, dengan video cuplikan dari akun @unusual_whales di X yang ditonton jutaan kali, memicu debat tentang masa depan profesi medis. Musk juga menambahkan bahwa perubahan ini akan berlaku untuk bidang pendidikan lain, karena AI akan mengambil alih tugas kognitif dan fisik.

Meski demikian, prediksi Musk mendapat respons beragam dari para pakar. Di satu sisi, pendukung seperti Peter Diamandis, host podcast yang juga pendiri XPRIZE, setuju bahwa AI akan demokratisasi layanan kesehatan, membuatnya lebih murah dan accessible. Diamandis menambahkan bahwa dalam tiga hingga empat tahun, Optimus bisa lebih baik dari surgeon manusia, meskipun dengan margin kesalahan. Namun, kritik muncul dari kalangan medis dan teknologi. Di Reddit, diskusi di r/accelerate mempertanyakan apakah AI benar-benar bisa menggantikan dokter dalam waktu singkat, karena regulasi medis yang ketat dan kompleksitas etika. India Today menyoroti bahwa klaim Musk mengabaikan realitas, karena robot bedah seperti da Vinci sudah ada tapi masih memerlukan pengawasan manusia, dan adopsi luas memerlukan waktu lebih dari tiga tahun karena isu lisensi dan keselamatan pasien. Pakar seperti David Furman dari Buck Institute for Research on Aging juga meragukan, menyatakan bahwa meskipun AI bisa membantu diagnosis, bedah memerlukan sentuhan manusia untuk kasus tak terduga.

Debat ini semakin relevan seiring kemajuan Tesla Optimus, yang pada 2025 telah demo tugas sederhana seperti melayani minuman, tapi masih jauh dari bedah presisi. Musk optimis bahwa pada 2027, Optimus akan siap produksi massal dengan harga US$20.000 per unit, potensial merevolusi kesehatan global. Di Indonesia, prediksi ini bisa mendorong reformasi pendidikan medis, dengan universitas seperti UI yang baru buka prodi AI untuk integrasi teknologi di kesehatan. Meski kontroversial, pernyataan Musk memicu diskusi tentang masa depan AI di medis, dengan harapan teknologi membawa akses kesehatan lebih baik untuk semua.