Emas Tembus Rekor Baru US$4.835 per Ons, Perak US$95: Dampak Tarif Trump atas Greenland

1/21/20262 min baca

gold and silver oval case
gold and silver oval case

Surakarta, 21 Januari 2026 - Harga emas dunia kembali mencapai rekor tertinggi baru (all-time high/ATH) di level US$4.835 per ons pada 19 Januari 2026, naik lebih dari 2% dalam sehari, sementara perak melonjak ke US$95 per ons, mencatat kenaikan 4,4% akibat ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump terkait sengketa Greenland. Ancaman ini memicu kekhawatiran perang dagang baru antara AS dan Eropa, mendorong investor beralih ke aset safe-haven seperti emas dan perak, yang menyebabkan dolar AS melemah dan pasar saham anjlok. Di Indonesia, harga emas Antam ikut naik Rp35.000 menjadi Rp2.772.000 per gram, sementara token emas digital XAUT melonjak 3,6% menjadi US$3.836 per token, menurut data Logam Mulia dan CoinMarketCap.

Konflik Greenland memanas setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10% pada impor dari delapan negara Eropa—termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris—mulai 1 Februari 2026, yang bisa naik menjadi 25% pada Juni jika Denmark tidak menjual Greenland ke AS. Trump mengklaim Greenland penting untuk keamanan nasional AS karena sumber daya alam dan posisi strategis Arktik, tapi Denmark dan Greenland menolak tegas, menyebutnya sebagai "ancaman absurd". Uni Eropa (UE), Kanada, dan Prancis menyatakan solidaritas penuh dengan Denmark, dengan Perdana Menteri Greenland Mute Egede memerintahkan persiapan militer meskipun menganggap invasi militer tidak mungkin. Menurut Bloomberg pada 20 Januari 2026, ancaman ini telah memicu "risk-off" di pasar, dengan gold futures di Comex naik ke US$4,765 per ons dan silver surge karena investor mencari haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Lonjakan ini bukan semata faktor Greenland; sepanjang 2025-2026, emas telah naik 76% annually berkat ketegangan dagang Trump, inflasi AS yang tetap di atas 2%, dan permintaan cadangan dari bank sentral seperti China yang beli 2.000 ton emas. Perak, yang naik 176% sepanjang 2025, mendapat dorongan dari permintaan industri seperti solar panel dan EV, tapi rally terbaru lebih karena safe-haven demand, dengan prediksi harga $100 per ons pada 2026 dari analis seperti Peter Schiff. Di AS, Wall Street alami "Santa Claus rally" terbalik, dengan S&P 500 turun 1.5% karena kekhawatiran perang dagang Eropa-AS, yang mewakili 2/3 market cap global. Trump tetap tegas pada rencananya, seperti yang ia sampaikan di Twitter pada 18 Januari 2026: "Greenland harus menjadi milik AS untuk keamanan Arktik!"

Di Indonesia, lonjakan ini mendorong harga emas Antam dan UBS naik, dengan analis dari Pegadaian memprediksi kenaikan lanjut jika konflik escalates, meski hati-hati terhadap volatilitas. Dampak global sangat luas, dengan Eropa ancam balas tarif, yang bisa memperlambat pertumbuhan dunia ke 3% pada 2026 menurut BI. Krisis ini menegaskan emas dan perak sebagai haven utama di tengah uncertainty, dengan investor seperti Schiff memprediksi gold $5.000-6.000 pada 2026.