Hacker Iran Manfaatkan Starlink Elon Musk untuk Serang AS-Israel

3/5/20262 min baca

White satellite dish on a stand on rocks.
White satellite dish on a stand on rocks.

Surakarta, 5 Maret 2026 – Meskipun pemerintah Iran membatasi akses internet selama eskalasi konflik dengan AS dan Israel, kelompok hacker Iran tetap aktif dan bahkan semakin ganas. Mereka memanfaatkan jaringan satelit Starlink milik Elon Musk untuk tetap terhubung dengan dunia maya dan melancarkan serangan siber. Laporan Forbes pada 4 Maret 2026 menyebutkan bahwa setidaknya puluhan ribu perangkat Starlink ilegal masih beroperasi di Iran melalui pasar gelap, meskipun perusahaan SpaceX sebelumnya membatasi distribusi resmi di negara tersebut.

Salah satu grup yang paling menonjol adalah Handala, yang dalam dua hari terakhir aktif mengancam Barat melalui akun X. Kelompok ini mengklaim akan melancarkan serangan siber terhadap sistem rudal Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, Fatimiyoun Electronic Team berhasil meretas puluhan komputer milik militer Israel dengan tujuan menghapus data penting. Hacker lain bahkan menyusup ke aplikasi BadeSaba yang digunakan 5 juta warga Iran, memaksa militer Iran menyerahkan diri kepada demonstran anti-rezim.

Ironisnya, infrastruktur Starlink yang kini dimanfaatkan hacker Iran dulunya justru didukung pemerintah AS untuk membantu demonstran Iran berkomunikasi saat protes 2022–2023. Saat itu, Starlink diizinkan masuk secara terbatas untuk “keperluan kemanusiaan”. Namun, kini teknologi yang sama digunakan untuk menyerang infrastruktur energi di Yordania dan sistem rudal sekutu AS-Israel.

Chief of Staff Check Point Software, Gil Messing, mengatakan kepada Forbes, “Mereka adalah grup peretas paling terkenal yang digunakan rezim untuk operasi siber.” Pakar keamanan siber dari CrowdStrike dan Mandiant juga menilai Handala memiliki kaitan erat dengan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS). Serangan mereka semakin intensif sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, sebagai bentuk balas dendam langsung terhadap AS dan Israel.

Situasi ini semakin memperumit posisi Elon Musk dan SpaceX. Di satu sisi, Starlink membantu warga sipil di zona konflik; di sisi lain, perangkat yang sama kini menjadi alat perang siber. Pemerintah AS dikabarkan sedang mengevaluasi kemungkinan memblokir akses Starlink di Iran secara lebih ketat, meskipun hal itu sulit dilakukan karena jaringan satelit bersifat global.

Serangan siber ini terjadi bersamaan dengan serangan rudal fisik Iran ke fasilitas militer AS di Teluk, menunjukkan bahwa perang antara Iran dan Barat kini berlangsung di dua medan sekaligus: fisik dan maya. Dampaknya sudah terasa pada stabilitas energi global dan keamanan siber internasional.