Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 30% ke US$110 per Barel

3/9/20262 min baca

red and black metal tower during sunset
red and black metal tower during sunset

Surakarta, 9 Maret 2026 – Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Asia Senin (9 Maret 2026), menembus level US$110 per barel setelah Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Kenaikan ini mencapai hampir 30% dalam waktu singkat, menjadi salah satu lonjakan tercepat sejak krisis energi global pasca-invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022.

Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan Majelis Ahli Iran melalui musyawarah internal yang berlangsung cepat pasca-kematian Khamenei akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Lembaga tersebut langsung mengeluarkan pernyataan yang mendesak rakyat Iran untuk menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru dan menjaga persatuan nasional. Mojtaba, yang selama ini dikenal sebagai figur garis keras dengan pengaruh kuat di kalangan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), dipilih secara bulat untuk memimpin Republik Islam Iran yang berdiri sejak 1979.

Lonjakan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan global. Serangan balasan Iran ke fasilitas militer AS di Teluk serta ancaman penutupan Selat Hormuz — jalur pengiriman 20% minyak dunia — membuat investor panik. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$118 per barel, level tertinggi sejak 2022. Brent crude juga melonjak tajam, menurut data Bloomberg dan Reuters.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas air dan energi Iran memicu eskalasi baru. “Amerika Serikat yang memulai preseden ini, bukan Iran,” tulis Araghchi di media sosial. Sementara itu, Israel mengklaim serangan ke fasilitas minyak Shahran di Teheran sebagai operasi presisi, meskipun Iran menyebutnya sebagai aksi terorisme.

Analis dari International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa jika konflik semakin meluas, pasokan minyak global bisa terganggu hingga 3-4 juta barel per hari. Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sedang memantau situasi ini karena berpotensi memengaruhi harga BBM domestik dan inflasi. Bank Indonesia juga siap mengambil langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas rupiah.

Di tengah gejolak ini, Presiden Prabowo Subianto kembali menawarkan Indonesia sebagai mediator netral, sesuai janjinya untuk mendukung perdamaian di Timur Tengah tanpa memihak. Namun, dengan penunjukan Mojtaba Khamenei yang dikenal garis keras, banyak pengamat memprediksi ketegangan justru akan berlanjut dalam waktu dekat.

Pasar global kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran. Lonjakan harga minyak ini tidak hanya mengguncang ekonomi dunia, tetapi juga menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas energi ketika konflik geopolitik semakin memanas.