Ilmuwan ITS Ciptakan Alat Pendeteksi Jalan Rusak Berbasis AI

4/20/20262 min baca

A building with a fountain in front of it
A building with a fountain in front of it

Surakarta, 20 April 2026 - Seorang doktor muda dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan inovasi penting di bidang infrastruktur. Hani'ah Mahmudah, lulusan Program Doktor Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS, menciptakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi kerusakan jalan secara otomatis dan akurat.

Sistem ini memanfaatkan model Convolutional Neural Network (CNN) yang dioptimalkan untuk perangkat komputasi edge. Model AI tersebut mampu menganalisis data visual dari foto dan video yang diambil langsung dari kamera yang dipasang pada kendaraan. Hasil identifikasi kemudian diproses secara real-time menggunakan platform NVIDIA AGX Orin, sehingga kerusakan jalan dapat terdeteksi dengan cepat tanpa harus menunggu inspeksi manual yang memakan waktu dan biaya besar.

Hani'ah menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari disertasinya yang fokus pada penerapan AI untuk pemeliharaan infrastruktur. “Dengan teknologi ini, kita bisa mendeteksi retak, lubang, atau kerusakan permukaan jalan secara otomatis. Hasilnya bisa langsung dikirim ke pusat data pemerintah untuk prioritas perbaikan,” ujarnya.

Indonesia memiliki lebih dari 540.000 kilometer jalan nasional dan daerah, dan setiap tahun anggaran pemeliharaan jalan mencapai triliunan rupiah. Namun, proses identifikasi kerusakan masih banyak dilakukan secara manual, sehingga sering terlambat dan kurang efisien. Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sekitar 20-25% jalan di Indonesia berada dalam kondisi rusak atau sedang. Inovasi Hani'ah diharapkan dapat memangkas biaya survei hingga 40-50% sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan karena kerusakan dapat dideteksi lebih dini.

Teknologi serupa sudah mulai dikembangkan di beberapa negara. Di Amerika Serikat, perusahaan seperti Waymo dan Uber menggunakan AI untuk mendeteksi kerusakan jalan melalui armada kendaraan otonom. Sementara di Singapura dan Jepang, sistem berbasis drone dan AI juga digunakan untuk pemantauan infrastruktur. Keunggulan sistem buatan Hani'ah adalah penggunaan edge computing yang memungkinkan pemrosesan data langsung di kendaraan tanpa harus selalu terkoneksi internet, sehingga cocok untuk daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menyambut baik inovasi ini dan menyebutnya sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional. “Ini contoh bagaimana riset doktor dapat langsung memberikan solusi bagi permasalahan bangsa,” katanya.

Hani'ah berharap teknologinya dapat diadopsi oleh pemerintah pusat dan daerah, serta dikembangkan lebih lanjut menjadi aplikasi mobile yang bisa digunakan oleh petugas lapangan atau bahkan masyarakat umum.

Dengan semakin meluasnya penggunaan AI di berbagai sektor, inovasi seperti ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam solusi teknologi berbasis lokal yang murah dan tepat guna.