IMF Prediksi AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru: Ancaman PHK Mengintai

1/21/20262 min baca

black and white industrial machine
black and white industrial machine

Surakarta, 21 Januari 2026 - Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan optimismenya terhadap peran kecerdasan buatan (AI) sebagai penggerak baru pertumbuhan ekonomi global. Dalam wawancara di World Economic Forum (WEF) Davos pada 20 Januari 2026, Georgieva memproyeksikan bahwa AI bisa meningkatkan pertumbuhan GDP global sebesar 0,1% hingga 0,8% per tahun dalam jangka menengah, membuat prospek ekonomi lebih cerah daripada era pra-pandemi. "Kami melihat potensi peningkatan pertumbuhan mulai dari 0,1% hingga 0,8% dalam beberapa tahun ke depan, yang akan membuat pertumbuhan lebih tinggi daripada sebelum pandemi," ujar Georgieva, menekankan bahwa investasi di AI dan teknologi bisa mengimbangi headwinds dari kebijakan perdagangan seperti tarif AS. Pernyataan ini selaras dengan laporan IMF World Economic Outlook (WEO) update Januari 2026, yang tingkatkan forecast global growth ke 3.3% untuk 2025 dan 2026, di atas estimasi Oktober 2025, berkat tailwinds dari AI dan tech investment yang lebih kuat di AS dan Asia.

Georgieva menambahkan bahwa meski risiko tilted downside karena trade tensions, AI mewakili upside signifikan jika adopsi cepat dan readiness global ditingkatkan, potensial tingkatkan growth 0.3% pada 2026 dan 0.1-0.8% annually medium-term. Ini didukung oleh laporan IMF sebelumnya pada Oktober 2025, yang revisi 2025 global GDP ke 3.2% dari 3.0%, karena drag tarif AS kurang dari feared, tapi peringatkan bahwa reevaluasi AI productivity gains bisa picu market correction jika harapan tak terpenuhi. Di sisi lain, Georgieva tekankan perlunya policy action untuk revive productivity, karena growth 3.3% masih below historical average, dengan divergent paths antar negara. Untuk Indonesia, AI potensial tambah kontribusi Rp1.000 triliun terhadap PDB pada 2030, menurut McKinsey, tapi butuh pemberdayaan SDM untuk mitigasi risiko.

Namun, di balik optimisme, Georgieva dan ahli lain peringatkan ancaman PHK massal akibat AI. WEF Future of Jobs Report 2025 sebut 40% perusahaan rencana kurangi kerja karena otomatisasi AI, dengan 85 juta pekerjaan hilang tapi 97 juta baru tercipta pada 2030. CEO DeepMind Demis Hassabis di Davos bilang AI mulai kurangi lowongan junior, dengan slowdown hiring di tech. Maka, negara dengan perusahaan AI kuat seperti AS, China, dan Indonesia harus siapkan reskilling untuk manusia yang tergantikan, seperti program pelatihan AI nasional Indonesia yang target 5 juta SDM pada 2030. Georgieva peringatkan bahwa tanpa action, AI bisa perlebar ketimpangan, tapi jika di-manage baik, jadi mesin growth berkelanjutan.

Debat ini relevan di WEF Davos 2026, di mana pemimpin dunia bahas AI sebagai double-edged sword untuk ekonomi. Meski demikian, IMF optimis AI tingkatkan growth jika adopsi luas dan policy tepat.