Ini Rahasia Bisnis Jepang Bisa Bertahan hingga Ratusan Tahun

11/2/20262 min baca

people walking on street under cloudy sky
people walking on street under cloudy sky

Surakarta, 2 November 2026 - Banyak perusahaan di dunia hanya bertahan puluhan tahun sebelum bangkrut, dijual, atau diakuisisi. Namun Jepang memiliki fenomena unik: ratusan hingga ribuan bisnis yang telah beroperasi selama ratusan bahkan lebih dari seribu tahun. Perusahaan-perusahaan ini disebut shinise, yang secara harfiah berarti “toko lama” atau “usaha mapan”.

Data dari berbagai riset menunjukkan dominasi Jepang dalam daftar perusahaan tertua dunia. Laporan Bank of Korea tahun 2008 mencatat bahwa dari 5.586 perusahaan berusia lebih dari 200 tahun di 41 negara, sekitar 56 persen berada di Jepang. Riset Priceonomics pada 2015 juga menemukan bahwa 517 dari 967 perusahaan tertua di dunia berasal dari Jepang. Salah satunya adalah Kongō Gumi, perusahaan konstruksi kuil yang didirikan tahun 578 Masehi dan telah beroperasi lebih dari 1.400 tahun. Hotel tertua di dunia, Nishiyama Onsen Keiunkan, berdiri sejak 705 Masehi. Bahkan hingga saat ini, Jepang memiliki puluhan ribu perusahaan berusia lebih dari 100 tahun.

Menurut profesor bisnis Toyohiro Kono dalam riset Japanese Management Philosophy: Can It Be Exported? (1982), ada tiga prinsip utama yang membantu perusahaan Jepang bertahan lama. Pertama, membangun tim internal yang solid. Perusahaan memiliki visi dan tujuan yang jelas, pembagian tugas yang terarah, serta perhatian serius terhadap kesejahteraan dan pengembangan karyawan. Kedua, mengambil keputusan bisnis secara matang. Setiap langkah diperhitungkan dengan hati-hati, dan masukan dari berbagai divisi didengar sebelum keputusan penting ditetapkan. Ketiga, menjadikan perusahaan sebagai komunitas. Karyawan diperlakukan sebagai mitra, dengan kesempatan promosi, pelatihan, dan peningkatan upah yang mendukung perkembangan karier jangka panjang.

Pendekatan ini membuat karyawan merasa dihargai dan memiliki alasan kuat untuk bertahan. Hubungan kerja yang erat membantu menjaga stabilitas sekaligus mendorong inovasi secara bertahap. Banyak shinise juga menerapkan prinsip suksesi yang fleksibel. Jika ahli waris darah tidak cocok, keluarga sering mengadopsi manajer atau pekerja berbakat agar kepemimpinan tetap berada di tangan orang yang kompeten, bukan sekadar berdasarkan garis keturunan.

Selain prinsip Kono, sejumlah kajian lain menambahkan faktor pendukung. Perusahaan Jepang cenderung berorientasi jangka panjang, memprioritaskan kelangsungan usaha dan kepercayaan pelanggan di atas keuntungan jangka pendek. Mereka konservatif dalam keuangan, menghindari utang berlebihan, dan fokus pada kompetensi inti sambil tetap beradaptasi. Tradisi menghormati leluhur dan komunitas lokal juga memperkuat loyalitas pelanggan lintas generasi.

Contoh nyata bisa dilihat pada Kongō Gumi yang bertahan melalui perang, gempa bumi, dan perubahan zaman dengan terus mengasah keahlian membangun kuil kayu tradisional. Atau hotel onsen yang tetap mempertahankan kualitas pelayanan sambil memperbarui fasilitas sesuai kebutuhan modern. Banyak shinise kecil di bidang makanan, kerajinan, dan akomodasi juga tumbuh perlahan namun stabil berkat hubungan erat dengan pelanggan setempat.

Pada akhirnya, bisnis yang berumur panjang di Jepang bukan hanya soal mencari keuntungan. Kekompakan tim, keputusan yang cermat, perhatian terhadap karyawan, serta komitmen menjaga warisan dan kepercayaan komunitas menjadi fondasi yang membuat perusahaan mampu melewati abad demi abad. Pelajaran ini relevan bagi pelaku usaha di mana pun: keberlanjutan sering kali lahir dari cara memandang bisnis sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi