Iran Alami Krisis Ekonomi Parah: Rial Jadi Mata Uang Terlemah Dunia, Rp50.000 Setara Jutaan Rial

1/16/20262 min baca

Saudi riyal banknote
Saudi riyal banknote

Surakarta, 16 Januari 2026 - Iran sedang menghadapi salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya, dengan mata uang rial yang terus merosot hingga menjadi salah satu yang terlemah di dunia. Inflasi yang melonjak tinggi, sanksi internasional yang semakin ketat, dan ketidakstabilan geopolitik telah membuat nilai rial anjlok drastis, kehilangan lebih dari 2.388% nilai terhadap dolar AS dalam kurang dari satu tahun. Menurut data dari XE.com per 16 Januari 2026, 1 rial Iran (IRR) hanya bernilai sekitar 0.0158 rupiah Indonesia (IDR), sementara terhadap dolar AS, 1 USD setara dengan sekitar 42.086 IRR di pasar resmi—namun di pasar gelap, angkanya bisa mencapai 1.457.000 IRR per USD, menurut situs bonbast.com. Kondisi ini membuat rial praktis "tidak bernilai" di mata mata uang kuat seperti dolar, di mana 1 IRR hampir mendekati nol terhadap USD dalam konteks praktis sehari-hari.

Akibatnya, daya beli rial terhadap rupiah juga sangat rendah. Bagi warga Indonesia (WNI), membawa Rp50.000 ke Iran bisa ditukar menjadi sekitar 3.156.859 rial, berdasarkan kurs terkini dari wise.com yang menunjukkan 1 IDR = sekitar 63.137 IRR. Bahkan, dengan gaji Upah Minimum Regional (UMR) seperti di DKI Jakarta yang sekitar Rp5 juta, seorang WNI secara teori bisa menjadi "jutawan" dalam rial, karena setara dengan ratusan juta rial—meskipun nilai riilnya tetap rendah karena hiperinflasi di Iran yang mencapai 42,4% pada 2025, menurut perkiraan IMF. Krisis ini semakin parah setelah perang singkat dengan Israel pada Juni 2025 yang merusak infrastruktur, serta kembalinya sanksi PBB pada September 2025 atas program nuklir Iran, yang membatasi ekspor minyak dan akses ke pasar global, seperti dilaporkan Al Jazeera.

Penyebab utama krisis ini meliputi sanksi internasional yang membatasi ekspor minyak—sumber pendapatan utama Iran—defisit anggaran kronis, dan korupsi struktural yang memperburuk inflasi. Menurut laporan World Bank pada Oktober 2025, ekonomi Iran diproyeksikan menyusut pada 2025 dan 2026 karena kenaikan harga bensin subsidi dan kurangnya investasi asing. Inflasi makanan saja mencapai 60-100% untuk barang pokok seperti roti dan ayam, menurut Middle East Forum. Krisis kepercayaan terhadap rial juga memicu protes nasional pada Mei 2025 atas kekurangan makanan, dan pemadaman energi yang semakin sering, seperti yang dianalisis oleh Hudson Institute. Pemerintah Iran, di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, berusaha mengatasi dengan anggaran ketat yang bergantung pada pajak daripada minyak, tapi skeptisisme tinggi karena sanksi yang semakin ketat, menurut NCRI.

Di tingkat global, krisis rial menjadi contoh ekstrem devaluasi mata uang, dengan nilai rial yang telah jatuh puluhan ribu kali sejak Revolusi Islam 1979 (ketika 1 USD ≈ 70 IRR). Bagi wisatawan atau ekspatriat Indonesia, ini berarti daya beli rupiah sangat tinggi di Iran—Rp1 juta bisa setara dengan sekitar 63 juta rial—tapi juga menyoroti risiko hiperinflasi yang membuat barang sehari-hari mahal bagi warga lokal. Meski demikian, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menyarankan WNI untuk berhati-hati dalam transaksi keuangan di Iran karena volatilitas rial dan sanksi internasional yang mempersulit transfer dana.

Krisis ini tidak hanya mempengaruhi Iran tapi juga global, dengan penurunan ekspor minyak Iran yang bisa mempengaruhi harga energi dunia. Para ahli seperti dari DW.com memprediksi bahwa tanpa reformasi struktural, ekonomi Iran akan terus kontraksi pada 2026, dengan inflasi tetap di atas 40%, memperburuk kemiskinan dan ketidakstabilan sosial.