Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus US$200 per Bareli

3/16/20262 min baca

a large boat floating on top of a body of water
a large boat floating on top of a body of water

Surakarta, 16 Maret 2026 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memuncak setelah Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa harga minyak dunia bisa melonjak ekstrem hingga US$200 per barel jika konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak segera berakhir. Saat ini, harga minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$90–95 per barel, tetapi ancaman Iran langsung mengguncang pasar energi global.

Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara Militer Iran Ebrahim Zolfaqari melalui pernyataan resmi pada Jumat (13 Maret 2026). “Siap-siap saja melihat harga minyak menyentuh US$200 per barel, karena stabilitas energi global bergantung pada keamanan kawasan,” tegas Zolfaqari, seperti dilansir Reuters dan Al Jazeera. Ancaman ini muncul setelah laporan bahwa pasukan IRGC menembaki beberapa kapal dagang di Selat Hormuz dan perairan Teluk, yang dianggap sebagai respons balasan atas serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan ke kapal dagang ini langsung memicu kepanikan di pasar. Menurut data Bloomberg, harga minyak Brent sempat naik lebih dari 8% dalam sesi perdagangan Asia, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$108 per barel. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz — jalur pengiriman 20% minyak dunia — harga bisa dengan mudah mencapai US$150–200 per barel dalam waktu singkat, seperti yang terjadi pada krisis minyak 1979.

Pemerintah Iran di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa mereka tidak akan ragu menggunakan “senjata ekonomi” ini jika AS dan Israel terus melakukan agresi. Mojtaba Khamenei dalam pidato terbarunya menegaskan bahwa “setiap tetes darah martir akan dibalas, termasuk dengan mengganggu aliran energi global”.

Di sisi lain, AS dan sekutunya bereaksi cepat. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut ancaman Iran sebagai “bluffing” dan menyatakan bahwa armada AS tetap siaga di kawasan. Namun, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk dan BP sudah mengalihkan rute kapal tanker ke Afrika Selatan, menyebabkan keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya logistik hingga 40%.

Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung memantau situasi ini. Menteri ESDM menyatakan bahwa pemerintah siap mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak terhadap BBM domestik dan inflasi. Bank Indonesia (BI) juga memproyeksikan tekanan tambahan pada rupiah jika harga minyak terus melambung.

Pakar energi dari International Energy Agency (IEA) menilai ancaman Iran ini sangat serius karena Selat Hormuz merupakan “chokepoint” global. Jika Iran benar-benar menutup jalur tersebut, pasokan minyak dunia bisa terganggu hingga 4–5 juta barel per hari, yang akan memicu resesi di banyak negara.

Dengan eskalasi yang semakin tak terkendali, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Tehran dan Washington. Ancaman harga minyak US$200 per barel bukan lagi sekadar retorika, melainkan risiko nyata yang bisa mengguncang ekonomi global.