Iran Serang 6 Fasilitas Militer AS di Bahrain, Kuwait, Irak, dan UEA, Markas Armada Kelima Hancur

3/4/20262 min baca

Iran Balas Dendam: Serang 6 Fasilitas Militer AS di Bahrain, Kuwait, Irak, dan UEA, Markas Armada Kelima Hancur
Iran Balas Dendam: Serang 6 Fasilitas Militer AS di Bahrain, Kuwait, Irak, dan UEA, Markas Armada Kelima Hancur

Surakarta, 4 Maret 2026 - Iran terus melanjutkan aksi balas dendam setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sejak Sabtu (28 Februari 2026) malam hingga Senin dini hari, Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) melancarkan serangan rudal dan drone ke setidaknya enam fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan ini menyasar titik-titik strategis di Bahrain, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA), memicu kepanikan regional dan lonjakan harga minyak dunia.

Salah satu target utama adalah markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain. Pangkalan ini, yang menjadi pusat komando operasi AS di Teluk Persia, dihantam rudal balistik dan drone kamikaze. Terminal komunikasi satelit serta beberapa gedung komando rusak berat. Citra satelit yang dirilis oleh perusahaan analisis Planet Labs (dilansir The New York Times, 2 Maret 2026) menunjukkan lubang besar di atap hangar dan kebakaran hebat di area logistik. IRGC mengklaim serangan ini sebagai “balasan langsung atas pembunuhan Khamenei”.

Di Kuwait, tiga pangkalan AS menjadi sasaran: Camp Arifjan, Ali Al Salem Air Base, dan Camp Buehring. Video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan drone meledak di dalam perimeter pangkalan, disusul asap hitam mengepul. Di Irak, pangkalan di sekitar Bandara Internasional Erbil juga terkena serangan, dengan setidaknya empat gedung hancur. Sementara di UEA, area rekreasi dan logistik Angkatan Laut AS di Pelabuhan Jebel Ali, Dubai, turut terdampak meski bukan pangkalan resmi.

Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) Inggris melaporkan adanya “aktivitas militer signifikan” di Selat Hormuz dan perairan sekitar, dengan setidaknya dua kapal tanker yang sempat terkena imbas serangan. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon mengenai jumlah korban di pihak AS, namun sumber militer menyebut kerusakan material cukup signifikan.

Serangan ini merupakan kelanjutan langsung dari pembalasan Iran atas kematian Khamenei akibat serangan AS-Israel ke Tehran. IRGC menyatakan bahwa seluruh operasi dilakukan sebagai “pembalasan yang sah” dan memperingatkan bahwa kapal-kapal asing yang mendekati Selat Hormuz akan menghadapi risiko serupa. Menurut data Lloyd’s List Intelligence, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis hingga 65% dalam 48 jam terakhir, memicu lonjakan harga minyak Brent hingga 9% ke level US$94 per barel.

Pemerintah AS dan sekutunya belum memberikan pernyataan lengkap, namun Presiden Donald Trump dalam cuitan di Truth Social menyebut serangan Iran sebagai “tindakan putus asa” dan menjanjikan respons yang “lebih kuat”. Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kemlu menyatakan keprihatinan mendalam dan mengimbau semua pihak menahan diri agar konflik tidak semakin meluas.

Konflik ini semakin menegaskan betapa rentannya stabilitas Timur Tengah dan dampaknya terhadap ekonomi global, terutama pasokan energi dunia yang bergantung pada Selat Hormuz.

Sumber gambar: New York Times