Iran Borong Ribuan Rudal Canggih dari Rusia Senilai US$589 Juta
Surakarta, 23 Februari 2026 - Iran dilaporkan telah menandatangani kesepakatan rahasia senilai US$589 juta (sekitar Rp9,9 triliun dengan kurs Rp16.800 per dolar AS) dengan Rusia untuk membeli ratusan sistem pertahanan udara canggih. Menurut laporan eksklusif Financial Times pada 31 Januari 2026, kontrak tersebut mencakup 500 unit peluncur Verba (MANPADS generasi terbaru) dan 2.500 rudal 9M336, yang akan dikirim secara bertahap mulai 2027 hingga 2029. Kesepakatan ini menjadi bukti semakin eratnya kerja sama militer antara Iran dan Rusia di tengah tekanan Barat yang terus meningkat.
Pembelian ini diyakini sebagai langkah defensif Iran menghadapi ancaman militer dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia, termasuk pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln dan ancaman serangan langsung jika diplomasi nuklir gagal. Presiden Donald Trump pada 26 Februari 2026 menyatakan bahwa jika negosiasi di Oman tidak membuahkan hasil, AS siap melancarkan "serangan berskala besar" terhadap fasilitas nuklir Iran. "Kami tidak akan biarkan Iran memiliki senjata nuklir. Jika mereka tidak mau berunding dengan baik, ada konsekuensi serius," tegas Trump dalam pernyataan di Gedung Putih.
Menurut analis militer dari International Institute for Strategic Studies (IISS) di London, rudal Verba dan 9M336 sangat efektif untuk pertahanan udara jarak pendek hingga menengah, mampu menjatuhkan pesawat tempur, helikopter, dan drone. Rudal ini merupakan upgrade dari sistem Igla-S yang sudah digunakan Iran, dengan teknologi pencarian inframerah yang lebih canggih dan daya tahan terhadap jamming elektronik. Pembelian ini semakin memperkuat hubungan militer Iran-Rusia, yang sudah terjalin erat sejak Rusia memasok drone Shahed ke Iran untuk digunakan dalam konflik regional.
Reaksi internasional pun cepat bermunculan. Israel menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut kesepakatan ini sebagai "ancaman langsung terhadap keamanan regional", sementara Uni Eropa menyerukan agar Rusia menghentikan pasokan senjata ke Iran. Di sisi lain, China diam-diam mendukung Iran melalui jalur diplomatik, menurut laporan Reuters pada 1 Februari 2026. Bagi Indonesia, perkembangan ini berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, karena gangguan di Teluk Persia bisa mendorong harga Brent naik di atas US$90 per barel, seperti yang dianalisis oleh Bloomberg.
Meski demikian, pemerintah Iran melalui Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa pembelian ini murni untuk pertahanan diri dan tidak melanggar resolusi PBB. Sementara itu, Gedung Putih masih berharap diplomasi bisa berhasil, meskipun ancaman militer tetap di meja sebagai opsi terakhir.
