Iran Hantam 13 Basis Militer AS di Timur Tengah: Serangan Balasan Massal Pasca-Kematian Khamenei

3/4/20262 min baca

Iran Hantam 13 Basis Militer AS di Timur Tengah: Serangan Balasan Massal Pasca-Kematian Khamenei
Iran Hantam 13 Basis Militer AS di Timur Tengah: Serangan Balasan Massal Pasca-Kematian Khamenei

Surakarta, 4 Maret 2026 - Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap 13 fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah sejak Sabtu (28 Februari 2026) malam hingga Senin dini hari. Serangan yang dilakukan Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) menggunakan ratusan rudal balistik dan drone kamikaze ini merupakan respons langsung atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan AS-Israel ke Tehran.

Menurut data yang dirilis Visual Capitalist dan dikonfirmasi oleh sumber militer Iran, target serangan meliputi pangkalan-pangkalan strategis berikut:

  • Qatar: Al Udeid Air Base (markas komando pusat AS di Timur Tengah) – terminal komunikasi dan hangar pesawat tempur rusak berat.

  • Bahrain: Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama – terminal satelit dan gudang logistik hancur.

  • Uni Emirat Arab: Al Dhafra Air Base dan area rekreasi Pelabuhan Jebel Ali di Dubai.

  • Irak: Pangkalan di Bandara Internasional Erbil dan Camp Victory di Baghdad.

  • Kuwait: Camp Arifjan, Ali Al Salem Air Base, dan Camp Buehring.

  • Arab Saudi: Fasilitas pendukung di Prince Sultan Air Base (meski tidak resmi dikonfirmasi Riyadh).

Citra satelit Planet Labs yang dirilis The New York Times menunjukkan kerusakan signifikan pada beberapa bangunan, dengan asap tebal dan kobaran api terlihat jelas. IRGC mengklaim serangan ini “sukses menghantam target-target militer AS” sebagai balasan atas pembunuhan Khamenei.

Serangan ini terjadi saat Iran masih dalam masa berkabung nasional 40 hari. Presiden sementara Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa “setiap tetes darah Khamenei akan dibalas dengan serangan yang lebih dahsyat”. Sementara itu, Presiden Donald Trump dalam cuitan Truth Social menyebut serangan Iran sebagai “tindakan putus asa” dan menjanjikan respons “lebih kuat dan cepat”.

Akibat serangan ini, ribuan personel AS di kawasan langsung dinaikkan status siaga tinggi. Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun hingga 70%, menyebabkan harga minyak Brent melonjak 9% ke level US$94 per barel dalam 24 jam. Puluhan kapal tanker terpaksa reroute melalui Afrika Selatan, memperlambat pasokan energi global.

Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam dan mengimbau semua pihak menahan diri. Presiden Prabowo Subianto kembali menawarkan Indonesia sebagai mediator netral, sesuai peringatannya sebelumnya bahwa konflik Iran-AS berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga.

Situasi saat ini masih sangat dinamis. Dunia internasional menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Teheran, sementara harga energi dan keamanan pelayaran global menjadi taruhannya.

Sumber gambar: The Boston Globe